Yayasan Trikora
Merupakan
yayasan pertama yang didirikan oleh Pak Harto. Yayasan ini didirikan,
“karena saya terpanggil, menyantuni anak-anak dan janda para prajurit yang
gugur dalam perjuangan pembebasan Irian Barat dari penjajahan Belanda.
Pak Harto mencatat setelah perebutan Irian Barat ada 121 janda dan 325
anak yang menjadi yatim-piatu. Untuk menyantuni dan membiayai pendidikan
anak-anak tersebut diperlukan dana. “Untuk itulah pada tahun 1963 saya
bentuk Yayasan Trikora,” ujar Pak Harto.
“Korban-korban itu, prajurit-prajurit yang gugur, meninggal di medan tugas.
Walaupun gugurnya itu dalam tugas tapi perintahnya dari saya, saya merasa
bertanggung jawab. Saya menempatkan diri sebagai pengganti ayah dan anak
anak prajurit yang gugur itu,” katanya.
Yayasan ini didirikan, “karena saya terpanggil.” Sebab siapa yang akan
mengurus anak-anaknya itu. Ayahnya sudah gugur, lantas pada waktu itu
pensiunnya hanya berapa. Lantas pada waktu itu ada yang masih dalam
kandungan. Jadi ditinggal ayahnya itu masih dalam kandungan. Berarti harus
mulai dipikirkan dari lahir sampai dewasa. Berarti kira-kira sekolahnya
dari mulai taman kanak-kanak, SD, SMP, sampai SMA dan perguruan tinggi.
Kalau paling cerdas pendidikannya cepat. Tapi kalau biasa 30 tahun. Jadi
30 tahun baru selesai mengurusi anak-anak yatim piatu itu.
Karena Belanda ngotot tidak mau menyerahkan Irian Barat walaupun hal
itu sudah diatur dalam Konferensi Meja Bundar di Den Hag tahun 1949,
Indonesia harus berjuang mendapatkannya. Cara diplomasi pun ditempuh sejak
tahun 1950 sampai dengan 1961 tanpa ada titik-titik terang penyelesaiannya.
“Belanda menggunakan alasan mengapa Irian Barat tidak masuk ke dalam
kedaulatan Republik Indonesia, karena Republik Indonesia telah melanggar
kepentingan dalam merubah negara serikat menjadi negara kesatuan Republik
Indonesia. Dan sebenarnya yang menginginkan negara kesatuan itu adalah
negara-negara bagian yang tergabung dalam Republik Indonesia Serikat. Ya
akhirnya Indonesia tidak melanggar,” kata Pak Harto bersemangat
menceritakan ketidaksenangan Belanda atas berubahnya status RI dari negara
serikat menjadi negara kesatuan.
“Ya konsekuensinya Belanda tidak mau menyerahkan Irian Barat kepada
Republik Indonesia. Bahkan sepuluh tahun kemudian, tahun 60-an, Belanda
masih tetap tidak mau menyerahkan Irian. Hingga akhirnya muncul Tri
Komando Rakyat (Trikora).”
Dikomandokannya Trikora oleh Bung Karno di Yogyakarta 19 Desember 1961,
menandai digunakannya cara militer untuk merebut Irian Barat. Maka
dibentuklah Komando Mandala untuk merebut Irian Barat. “Saya mendapat.
kehormatan untuk ditugaskan sebagai panglimanya,” kenang Pak Harto dengan
senyum lebar mengenang masa lalu.
Penjajagan secara militer pun dilakukan dalam persiapan merebut Irian
Barat. Kapal-kapal torpedo cepat pun dikirim ke perairan Irian Barat.
Puncaknya pada tanggal 15 Januari 1962, flotila yang terdiri dari 3 MTB
tersebut sempat terlibat dalam pertempuran laut yang tak seimbang.
Korbannya RI Macan Tutul tenggelam, dan awaknya ditawan Belanda.
Pak Harto mulai memegang komando pada bulan Februari 1962 dan Bung Karno
memberi target agar sebelum 17 Agustus 1962, Indonesia sudah harus masuk
ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Mengenang perintah presiden Soekarno waktu itu, Pak Harto mengingat,
“Padahal saya baru memangku tugas selama tujuh hari. Itu tugas berat yang
harus saya lakukan, mengingat 17 Agustus tinggal 7 bulan lagi.’
Melihat keadaan medan dan kekuatan serta dislokasi pasukan Belanda, untuk
merebut Irian Barat diperlukan operasi gabungan. “Berarti pula harus
dibentuk kesatuan gabungan,” kenang Pak Harto. Padahal pasukan gabungan
itu belum ada dan pangkalan tidak harus di Jakarta, tapi harus dekat Irian
agar pesawat bisa lebih lama terbang di atas Irian. Sementara di awal
operasi, karena intel dan perhubungan belum secanggih sekarang, kekuatan
dan dislokasi pasukan musuh belum diketahui pasti. Untuk itu dilakukan
operasi-operasi peninjauan.
Melihat kalau cuma mengandalkan operasi laut saja gagal, semua kekuatan
darat, laut, dan udara harus melakukan operasi gabungan. Oleh Panglima
Tertinggi, para Panglima diperintahkan menggerakkan pasukannya. “Termasuk
saya,harus melakukan persiapan. Padahal menurut teori, harus membentuk
pasukan gabungan terlebih dahulu baru melakukan operasi,” kenang Pak Harto
sambil tertawa mengenang keadaan masa lalu itu.
Operasi udara pun kemudian dilakukan. Operasi gabungan itu melakukan
penerjunan udara di berbagai kota seperti di Manokwari, Sorong, Fak-fak,
dan Merauke. Sementara pasukan yang didrop dari udara terus membesar
jumlahnya, pasukan lain dengan kekuatan 30.000 pasukan didukung 110 kapal
laut disiagakan di Teluk Peleng, Pulau Banggai, Sulawesi untuk melakukan
penyerbuan besar-besaran.
Sementara itu di jalur diplomatik pun sedang terjadi perundingan alot
antara delegasi Indonesia dan Belanda dengan PBB sebagal penengah. Melihat
infiltrasi pasukan ke aaratan Irian terus bertambah, dan pasukan yang
disiagakan pun tinggal menunggu perintah serbu, Belanda pun akhirnya
bersedia mengembalikan Irian Barat kepada PBB. Dengan melalui Pepera di
bawah pengawasan PBB, akhirnya Irian Barat masuk ke dalam negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Walau tak sempat terjadi pertempuran besar, tetap saja ada korban. Itulah
gabungan perjuangan antara politik diplomasi dengan militer. ‘Jadi kalau
saja jadi mendarat, pada waktu itu korbannya tidak kurang dari 40 persen,
menurut perhitungan saya. Kemudian lantas perlindungan udara kurang. Itu
saya perhitungkan. Kenapa? Ya, mission tadi. tanggal 17 Agustus 1962 Irian
harus sudah masuk ke Republik Indonesia. Alhamdullillah tidak terjadi.
Pada saat itu sudah diputuskan oleh Dewan Keamanan, Belanda menyerahkan
Irian Barat, maka operasi itu ditangguhkan
** Soeharto Media Center
|
|

Ibu Tien tinjau perumahan
|