Soeharto Media Center

Pusat Kajian dan Informasi

 


 

  Beranda
  Berita
  Biografi
  Pidato
  Opini
  Surat
  Museum
  Buku
  Album
  Yayasan
  Ibu Tien
  Kabinet
  Search
  English
  Link
   

 

 

YAYASAN:

  Yayasan
 
   

Yayasan Trikora

 

Merupakan yayasan pertama yang didirikan oleh Pak Harto. Yayasan ini didirikan, “karena saya terpanggil, menyantuni anak-anak dan janda para prajurit yang gugur dalam perjuangan pembebasan Irian Barat dari penjajahan Belanda.

 

Pak Harto mencatat setelah perebutan Irian Barat ada 121 janda dan 325 anak yang menjadi yatim-piatu. Untuk menyantuni dan membiayai pendidikan anak-anak tersebut diperlukan dana. “Untuk itulah pada tahun 1963 saya bentuk Yayasan Trikora,” ujar Pak Harto.

“Korban-korban itu, prajurit-prajurit yang gugur, meninggal di medan tugas. Walaupun gugurnya itu dalam tugas tapi perintahnya dari saya, saya merasa bertanggung jawab. Saya menempatkan diri sebagai pengganti ayah dan anak anak prajurit yang gugur itu,” katanya.

Yayasan ini didirikan, “karena saya terpanggil.” Sebab siapa yang akan mengurus anak-anaknya itu. Ayahnya sudah gugur, lantas pada waktu itu pensiunnya hanya berapa. Lantas pada waktu itu ada yang masih dalam kandungan. Jadi ditinggal ayahnya itu masih dalam kandungan. Berarti harus mulai dipikirkan dari lahir sampai dewasa. Berarti kira-kira sekolahnya dari mulai taman kanak-kanak, SD, SMP, sampai SMA dan perguruan tinggi. Kalau paling cerdas pendidikannya cepat. Tapi kalau biasa 30 tahun. Jadi 30 tahun baru selesai mengurusi anak-anak yatim piatu itu.
 

Karena Belanda ngotot tidak mau menyerahkan Irian Barat walaupun hal itu sudah diatur dalam Konferensi Meja Bundar di Den Hag tahun 1949, Indonesia harus berjuang mendapatkannya. Cara diplomasi pun ditempuh sejak tahun 1950 sampai dengan 1961 tanpa ada titik-titik terang penyelesaiannya.

“Belanda menggunakan alasan mengapa Irian Barat tidak masuk ke dalam kedaulatan Republik Indonesia, karena Republik Indonesia telah melanggar kepentingan dalam merubah negara serikat menjadi negara kesatuan Republik Indonesia. Dan sebenarnya yang menginginkan negara kesatuan itu adalah negara-negara bagian yang tergabung dalam Republik Indonesia Serikat. Ya akhirnya Indonesia tidak melanggar,” kata Pak Harto bersemangat menceritakan ketidaksenangan Belanda atas berubahnya status RI dari negara serikat menjadi negara kesatuan.

“Ya konsekuensinya Belanda tidak mau menyerahkan Irian Barat kepada Republik Indonesia. Bahkan sepuluh tahun kemudian, tahun 60-an, Belanda masih tetap tidak mau menyerahkan Irian. Hingga akhirnya muncul Tri Komando Rakyat (Trikora).”

Dikomandokannya Trikora oleh Bung Karno di Yogyakarta 19 Desember 1961, menandai digunakannya cara militer untuk merebut Irian Barat. Maka dibentuklah Komando Mandala untuk merebut Irian Barat. “Saya mendapat. kehormatan untuk ditugaskan sebagai panglimanya,” kenang Pak Harto dengan senyum lebar mengenang masa lalu.

Penjajagan secara militer pun dilakukan dalam persiapan merebut Irian Barat. Kapal-kapal torpedo cepat pun dikirim ke perairan Irian Barat. Puncaknya pada tanggal 15 Januari 1962, flotila yang terdiri dari 3 MTB tersebut sempat terlibat dalam pertempuran laut yang tak seimbang. Korbannya RI Macan Tutul tenggelam, dan awaknya ditawan Belanda.

Pak Harto mulai memegang komando pada bulan Februari 1962 dan Bung Karno memberi target agar sebelum 17 Agustus 1962, Indonesia sudah harus masuk ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Mengenang perintah presiden Soekarno waktu itu, Pak Harto mengingat, “Padahal saya baru memangku tugas selama tujuh hari. Itu tugas berat yang harus saya lakukan, mengingat 17 Agustus tinggal 7 bulan lagi.’

Melihat keadaan medan dan kekuatan serta dislokasi pasukan Belanda, untuk merebut Irian Barat diperlukan operasi gabungan. “Berarti pula harus dibentuk kesatuan gabungan,” kenang Pak Harto. Padahal pasukan gabungan itu belum ada dan pangkalan tidak harus di Jakarta, tapi harus dekat Irian agar pesawat bisa lebih lama terbang di atas Irian. Sementara di awal operasi, karena intel dan perhubungan belum secanggih sekarang, kekuatan dan dislokasi pasukan musuh belum diketahui pasti. Untuk itu dilakukan operasi-operasi peninjauan.

Melihat kalau cuma mengandalkan operasi laut saja gagal, semua kekuatan darat, laut, dan udara harus melakukan operasi gabungan. Oleh Panglima Tertinggi, para Panglima diperintahkan menggerakkan pasukannya. “Termasuk saya,harus melakukan persiapan. Padahal menurut teori, harus membentuk pasukan gabungan terlebih dahulu baru melakukan operasi,” kenang Pak Harto sambil tertawa mengenang keadaan masa lalu itu.

Operasi udara pun kemudian dilakukan. Operasi gabungan itu melakukan penerjunan udara di berbagai kota seperti di Manokwari, Sorong, Fak-fak, dan Merauke. Sementara pasukan yang didrop dari udara terus membesar jumlahnya, pasukan lain dengan kekuatan 30.000 pasukan didukung 110 kapal laut disiagakan di Teluk Peleng, Pulau Banggai, Sulawesi untuk melakukan penyerbuan besar-besaran.

Sementara itu di jalur diplomatik pun sedang terjadi perundingan alot antara delegasi Indonesia dan Belanda dengan PBB sebagal penengah. Melihat infiltrasi pasukan ke aaratan Irian terus bertambah, dan pasukan yang disiagakan pun tinggal menunggu perintah serbu, Belanda pun akhirnya bersedia mengembalikan Irian Barat kepada PBB. Dengan melalui Pepera di bawah pengawasan PBB, akhirnya Irian Barat masuk ke dalam negara Kesatuan Republik Indonesia.

Walau tak sempat terjadi pertempuran besar, tetap saja ada korban. Itulah gabungan perjuangan antara politik diplomasi dengan militer. ‘Jadi kalau saja jadi mendarat, pada waktu itu korbannya tidak kurang dari 40 persen, menurut perhitungan saya. Kemudian lantas perlindungan udara kurang. Itu saya perhitungkan. Kenapa? Ya, mission tadi. tanggal 17 Agustus 1962 Irian harus sudah masuk ke Republik Indonesia. Alhamdullillah tidak terjadi. Pada saat itu sudah diputuskan oleh Dewan Keamanan, Belanda menyerahkan Irian Barat, maka operasi itu ditangguhkan

 

** Soeharto Media Center

 
Ibu Tien tinjau perumahan

     
     
Copyright © 2003 SoehartoCenter-YCPPI. Design and maintainance by Esero.