Yayasan SEROJA
Yayasan Seroja
“Tahun 1970-an kita mulai ada korban lagi dengan operasi Seroja di Timor
Timur. Di Timor Timur lantas banyak korban prajurit. Walaupun saya sudah
tidak bersangkutan langsung sebagai komandan, tetapi sebagai panglima
tertinggi saya ikut bertanggung jawab juga. Pengalaman Yayasan Trlkora
dilanjutkan dengan mendiri Yayasan Seroja untuk menyantuni putra putri
atau yatim piatu dari pada Operasi Seroja itu. Tercatat jandanya 870 dan
yatim piatunya 2682.
“Sampai sekarang masih berjalan. Sekarang tahun 1998, kita catat dari 2682
itu masih 1478 yang masih perlu disantuni, dan ini saya perkirakan setelah
tahun 2005 akan selesai. Karena dimulai tahun 1976.
“Inilah pengalaman pertama mendirikan yayasan tadi. Jadi saya terpanggil
menyantuni, mengentaskan dari pada yatim piatu. Dan ini merupakan
kebanggaan tersendiri. Artinya, anak-anak yang tadinya tidak punya ayah,
saya bisa membantu menyantuni. Saya sebagai pengganti dari pada ayah
kalian.Dan mereka terasa bangga. Mempunyai ayah angkat, mulai saya dari
Panglima Kostrad sampai menjadi Presiden.
Dengan sendirinya kalau mereka mengambil santunan itu, mereka mengambil
bantuan dari ayah mereka, dari Pak Harto. Disamping ada uang, mungkin
merasakan pemberian daripada ayah mereka. Sebagai pengganti ayah saya.
“Saya merasa puas. Membantu mereka mengangkat kehidupan. Padahal orang
tuanya berjasa besar kepada negara,“ kata Pak Harto.
Ide itulah kemudian yang menginspirasi Pak Harto beserta kawan-kawannya
mendirikan yayasan-yayasan lain, seperti Yayasan Supersemar, Yayasan
Dharmais, Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila, serta yayasan lainnya
*** Soeharto Media Center |
|
|