Perpustakaan Nasional
Ketika Ibu Tien Soeharto menyaksikan sendiri keadaan Perpustakaan Museum
Pusat yang cukup memprihatinkan, tergerak hatinya untuk membantu
menyediakan fasilitas pendidikan ilmiah itu sebaik dan senyaman mungkin.
"Pada suatu hari pada bulan Oktober 1968 saya membaca berita di sebuah
surat kabar mengenai diselenggarakannya pameran surat kabar langka di
Perpustakaan Museum Pusat. Berita kocil itu menarik perhatian saya dan
mendorong saya datang untuk menyaksikannya," ungkap Ibu Tien Soeharto.
Mastini Hardjoprakoso (Kepala Perpustakaan Nasional sekarang) pada waktu
itu menjabat kepala perpustakaan Museum Pusat (tanpa eselon) termasuk
orang yang berjasa karena secara tidak langsung dapat menarik perhatian
Ibu Negara untuk menyaksikan pameran. Mastini, memang putri Solo, kawan
sekepanduan Ibu Tien Soeharto di kala mereka masih remaja. Pada Oktober
1968 dalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda, Mastini dapat inspirasi
untuk membuka pameran surat kabar.
Tanpa dinyana Ibu Tien berkenan menyaksikan pameran tersebut. Maka pada 8
Oktober Ibu Tien Soeharto tiba di Museum Pusat, disambut oleh Menteri
Penerangan Budiardjo dan Kepala Museum Mastini. Hari itu Ibu Negara
menghabiskan waktu cukup lama, melihat dan membaca surat kabar-surat kabar
langka. Bahkan masuk ke gudang pengap tempat menyimpan peta-peta kuno dan
dokumen berharga lainnya.
Kunjungan Ibu Negara ke tempat pameran itu memperoleh liputan luas media
massa. Komentar Ibu Tien tentang pameran itu antara lain, "Semua yang saya
saksikan dari dekat tadi terus menerus menjadi pemikiran saya. Betapa
dokumen-dokumen tadi sangat besar nilai dan manfaatnya untuk pembangunan
bangsa kita di masa depan."
Pada tahun 1971, kembali Ibu Tien mengunjungi Museum Pusat. "Hasil
kunjungan itu membesarkan hati saya. Bapak Presiden merestui gagasan saya
untuk membangun gedung Perpustakaan. Hati saya pun makin mantap ketika
gagasan saya itu diterima sepenuhnya oleh pengurus dan Badan Pendiri
Yayasan Harapan Kita".
Kendati begitu, pembangunannya baru dapat dimulai pada 1985. Sebab
menyangkut perencanaan, dana dan lahan yang diperlukan.
Setelah memperoleh lokasi yang ideal, Ibu Tien Soeharto membicarakan
rencana pembangunan dengan Direktur Jenderal Kebudayaan Prof. Dr. Haryati
Soebadio.
Dari pihak Direktorat Jenderal Kebudayaan tampaknya sudah dan sedang
menyiapkan rencana untuk mengintegrasikan beberapa perpustakaan yang
lokasinya tersebar di pelbagai tempat. Itu berarti, menurut 'master plan'
harus dibangun gedung baru. Hambatannya cukup besar -prosedur birokrasi,
dana dan lahan yang luas.
Menyadari begitu banyak kendala, maka Mastini memberanikan diri mohon
waktu untuk menghadap Ibu Negara. Mastini menjelaskan hambatan yang tak
dapat ia atasi. Dan betapa bahagianya ketika Ibu Tien bersedia membantunya.
Ibu Tien berkata: "Sudahlah Bu Mastini, Yayasan Harapan Kita akan
membangun gedung itu."
Tiga tahun kemudian rampunglah tahap pembangunan pertama Desember 1986 dan
kedua selesai Oktober 1988.
Gedung Perpustakaan Nasional itu pun diresmikan, kehadirannya menawarkan
kemudahan kepada siapa saja yang ingin menambah ilmu. Gedung itu kini
berdiri dengan megah dan monumental di tengah bangsa yang sedang membangun.
Penampilannya yang memadukan arsitektur lama dan baru seakan-akan
memberikan simbol tentang masa lampau yang harus menjadi referensi dan
masa datang yang patut dipandang sedang menantang umat manusla.
Mastini mengusulkan bentuk prasastinya berwujud sebuah buku besar yang
dibuat dari batu marmer. Ibu Tien Soeharto menyetujui dan menyarankan agar
dipahat pada latar belakang prasasti itu delapan watak dan sifat terbaik
yang terkenal sebagai "Hastha Brata". Di atas batu marmer yang masih
berwarna putih bersih itulah Bapak Presiden dan Ibu Negara membubuhkan
tandatangannya setelah upacara peresmian dan disaksikan oleh Presiden
Soeharto.
Presiden Soeharto menegaskan dalam sambutan peresmian bahwa kehadiran
perpustakaan adalah suatu keharusan kalau kita ingin maju. Perpustakaan
merupakan salah satu sarana untuk mencapai salah satu tujuan
nasional-mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada bagian lain dari kata
sambutannya Presiden berkata: "Telah tiba saatnya bangsa kita harus
mengembangkan semangat cinta buku dan gemar membaca lebih-lebih bagi
generasi baru bangsa kita. Untuk itu perpustakaan merupakan salah satu
jawabannya."
Di hadapan para pembesar dan undangan dan lebih-lebih di depan istrinya
yang telah bekerja keras mewujudkan gedung itu, beliau menyatakan: '~tas
nama negara Republik Indonesia dengan rasa terima kasih yang dalam dan
rasa hormat yang tulus, saya terima persembahan Yayasan Harapan Kita dalam
wujud gedung Perpustakaan Nasional ini kepada bangsa Indonesia."
Usai diresmikan penggunaannya, Perpustakaan Nasional mampu menarik minat
banyak pengunjung, terutama para pelajar dan mahasiswa yang membutuhkan
referensi untuk memperluas wawasan dan pengetahuan. Sehari-hari, jumlah
pengunjung dua ratus orang lebih, sedang anggotanya sekitar 10.000 ribu
orang.
* SMC, dari Pahlawan Nasional, Hj Fatimah Siti Hartinah Soeharto
Gedung Perpustakaan Nasional di Jalan Salemba, Jakarta
*** Soeharto Media Center |
|
Ibu Tien Soeharto menandatangani prasasti Perpusatakaan
Nasional saat peresmian 11 Maret 1989 |