Soeharto Media Center

Pusat Kajian dan Informasi

 


 

  Beranda
  Berita
  Biografi
  Pidato
  Opini
  Surat
  Museum
  Buku
  Album
  Yayasan
  Ibu Tien
  Kabinet
  Search
  English
  Link
   

 

 

REVIEW:

    Penghargaan FAO

Saat Mencapai Swasembada Pangan


Gabah sebanyak 100.000 ton yang dikumpulkan secara gotongroyong dan sukarela oleh petani Indonesia, diserahkan kepada FAO (Food and Agriculture Organitazion) lewat HM Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Gabah itu kemudian diteruskan kepada warga-warga yang mengalami kelaparan di berbagai belahan dunia, khususnya di Afrika.

Bantuan antar petani ini merupakan sejarah yang pertama kali terjadi di dunia, sekaligus merupakan indikasi, keberhasilan pertanian saat itu di Indonesia.
Indonesia berhasil berswasembada beras tahun 1984 setelah sekian lama menjadi pengimpor beras terbesar di dunia. Sebagai perbandingan, jika tahun 1969 Indonesia hanya mampu memproduksi beras sekitar 12,2 juta ton, pada tahun 1984 bisa mencapai 25,8 juta ton.

Ketimpangan antara negara-negara maju dan negara berkembang tampak nyata, dengan dihasilkannya lebih dari separuh poduksi pangan dunia oleh negara-ngara maju, padahal kawasan-kawasan negara maju itu hanya berpenghuni sepertiga dari penduduk dunia. Negara-negara maju menghasilkan produksi pangan lebih dari dua setengah kali lipat dari produktivitas pangan negara-negara yang masih sedang membangun.

Keprihatinan yang mendalam, saat negara berkembang masih kekurangan pangan, sementara negara maju malah mengurangi produksi pangannya demi stabilitas harga.
Indonesia di bawah kempimpinan Presiden Soeharto melakukan berbagai upaya lewat keputusan politiknya dengan memusatkan perhatian pada pembangunan pertanian. Hal itu dimanifestasikan dengan penyediaan anggaran pembangunan negara di sektor pertanian dan irigasi.

Mengingat memperluas lahan pertanian memerlukan dana yang cukup besar, dalam pelaksanaanya lebih menitikberatkan kepada cara usaha intensifikasi, yakni dengan menaikkan produksi tertutama produktivitas padi pada areal yang telah ada.
Tantangan itu cukup besar, mengingat sebelumnya, rata-rata kehidupan petani sangat miskin yang juga miskin pengetahuan dan memiliki lahan sempit. Di Indonesia, rata-rata petani hanya memiliki setengah Ha lahan sebagai tumpuan usaha taninya. Mereka juga tak mampu membeli pupuk, bibit unggul, obat-obatan hama dan cara tradisional yang digunakan, sehingga sulit untuk menaikkan produksi pangan mereka.

Instruksi kepada para petani, tak cukup hanya anjuran dan uraian. Petani takkan puas jika tidak ditunjukkan bukti. Karena itu, lahan-lahan percontohan pun dibangun, seiring dengan dikerahkannya tenaga-tenaga penyuluhan dan bimbingan yang disebut Intensifiaksi massal (Inmas) dan Bimbingan massal (Bimas). Upaya itu bukan tidak punya hambatan. Dengan segala daya dan keinginan bersama untuk menaikkan prouksi pertanian itu, berbagai koreksi pun dilakukan.

Tahun 1984, merupakan puncak produktivitas pangan Inonesia. Yang semula tak kurang dari 2 juta ton pertahun, beras diimpor untuk memenuhi kebutuhan pangan, maka tahun 1984 telah bisa memenuhi kebutuhan sekitar 160 juta penduduk (saat itu) dan bahkan secara gotong royong petani Indonesia mengumpulkan gabah secara sukarela sebesar 100.000 ton untuk disumbangkan kepada petani dunia lain yang kekurangan pangan.
Keberhasilan ini telah membuat FAO yang saat itu Mr. Edouard Saouma sebagai Direktur Jenderalnya, mengundang Presiden Soeharto untuk bicara pada forum dunia, tepatnya tanggal 14 November 1985.

Dalam ulang tahunnya yang ke-40, organisasi pangan dan pertanian PBB itu, mempersilakan Soeharto untuk berbicara tentang pengalaman sehingga pada hal-hal teknis pelaksanaan dalam upaya menaikan tingkat produktivitas dengan mencapai tingkat berswasembada pangan tersebut. Berbicara lebih dari setengah jam, Soeharto menyatakan, bahwa negara-ngara maju mempunyai tanggungjawab dan kemampuan untuk memberi kesempatan kepada negara-ngara yang sedang membangun untuk ikut maju dan sejahtera dalam mnggalakkan pembangunan ekonomi dunia yang lebih adil dan merata.

“Dari pada kemampuan dan modal besar yang tersedia digunakan untuk adu kekuatan senjata yang menjurus kepada kesengsaraan dan penderitaan manusia, lebih baik dipergunakan untuk memenuhi tanggungjawab (kemanusiaan) itu, sehingga terwujud suatu tatanan hubungan dan kerjasama internasional yang mendatangkan keadilan sosial yang merata di seluruh dunia. Itulah yang menjadi idam-idaman semua umat di dunia.”
Presiden Soeharto menjelaskan pula pada forum tersebut, bahwa bangsa Indonesia ingin membangun manusia Indonesia yang utuh, yakni terpenuhinya kebutuhan jasmani dan rohani seperti budaya yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya yang merupakan pandangan hidup sebagai bangsa.

Bulan Juli 1986, Direktur Jenderal FAO, Eddouard Saouma menyebut Soeharto sebagai lambang perkembangan pertanian Internasional, tiba di Jakarta untuk menyerahkan penghargaan berupa medali emas FAO. Medali yang terdiri dari dua jenis, yakni yang berukuran kecil dan satunya lebih besar, berukiran timbul bergambar Soeharto dengan tulisan”President Soeharto Indonesia” dan sisi lain bergambar seorang petani yang sedang menanam padi, bertuliskan “From Rice Imoprter to Self-Sufficiency”.
Pada tahap pertama, medali itu dicetak dalam jumlah cukup banyak yang terbuat dari emas, perak dan perunggu. Pencetakan berikutnya untuk dijual yang hasilnya akan dipergunakan untuk membantu negara-negara yang sedang kelaparan, selain juga untuk aktivitas FAO dan negara-negara yang membutuhkan bantuan FAO.
 

*SMC, dandy

 

 

     
Copyright © 2003 SoehartoCenter-YCPPI. Design and maintainance by Esero.