Drs. Saadillah Mursyid, MPA
Pak Harto Tidak Mau Terjadi Pertumpahan Darah
Ketika jam tangan saya menunjukkan waktu sekitar pukul 22 : 15 hari Rabu
20 Mei 1998. Presiden Soeharto mempersilakan sava duduk di sebelah beliau.
Setelah hening sejenak, kemudian beliau mengatakan: "Segala usaha untuk
menyelamatkan bangsa dan negara telah kita lakukan. Tetapi Tuhan rupanya
berkehendak lain. Bentrokan antara mahasiswa dan ABRI tidak boleh sampai
terjadi. Saya tidak mau terjadi pertumpahan darah. Oleh karena itu saya
memutuskan untuk berhenti sebagai Presiden, menurut Pasal 8 Undang-Undang
Dasar 1945 "
Detik-detik terkhir mendampingi Pak Harto sebagai Presiden Republik
Indonesia. Sekelumit dari catatan harian saya, di saat-saat Pak Harto
memutuskan menyatakan berhenti dari jabatan sebagai Presiden di bulan Mei
1998. Ketika itu saya memegang jabatan Menteri Sekretaris Negara Kabinet
Pembangunan VII. Saya berusaha mencatat sebaik-baiknya peristiwa demi
peristiwa yang berjalan dengan sangat cepat ketika itu.
Catatan-catatan itu saya simpan dengan rapi dalam tumpukan perpustakaan
pribadi. Saya akhirnya juga menyadari bahwa inilah momentum yang paling
tepat, karena akan menjadi kenang kenangan ulang tahun Pak Harto yang
ke-82, tanggal 8 Juni 2003.
Hari Rabu 20 Mei 1998 sekitar pukul 19:30, Presiden Soeharto menerima
Mantan Wakil Presiden Bapak Sudharmono, SH di kediaman Jalan Cendana 8.
Pada pukul 20: 15 setelah selesai bertemu Presiden, saya menemui Bapak
Sudharmono, SH di ruang tunggu. Bapak Sudharmono, SH menyampaikan bahwa
Presiden Soeharto menyatakan tetap akan melaksanakan tugas-tugas
kepresidenan dan segera akan mengumumkan pembentukan Komite Reformasi
serta mengadakan perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII.
Sesudah pembicaraan singkat itu Bapak Sudharmono, SH pulang. Kemudian
sekitar pukul 20:30 saya diminta menemui Presiden Soeharto di ruang tamu
kediaman jalan Cendana 8. Ketika saya memasuki ruangan, ternyata di dalam
sudah ada Wakil Presiden B.J. Habibie.
Di hadapan Wakil Presiden B.J Habibie, Presiden Soeharto minta agar saya,
Menteri Sekretaris Negara, mempersiapkan naskah final:
1. Keputusan Presiden tentang Komite Reformasi;
2. Keputusan Presiden tentang Pembentukan Kabinet Reformasi.
Presiden Soeharto kemudian menyatakan akan mengumumkan dan melaksanakan
pelantikannya pada hari berikutnya, Kamis 21 Mei 1998. Untuk keperluan itu
Presiden Soeharto minta agar ruang upacara atau yang lazim disebut ruang
kredensial di Istana Merdeka dipersiapkan.
Sekitar pukul 21:00, setelah Wakil Presiden B.J Habibie pulang, saya mohon
untuk bisa melanjutkan bertemu dengan Presiden. Dalam kesempatan itu saya
melaporkan bahwa sejumlah orang-orang yang direncanakan untuk menjadi
anggota Komite Reformasi telah menyatakan menolak. Kemudian juga ada
informasi bahwa empat.belas orang yang direncanakan akan duduk dalam
Kabinet Reformasi menyatakan tidak bersedia ikut serta dalam Kabinet.
Setelah selesai bertemu Presiden, sekitar pukul 21:30, saya harus
mendapatkan perawatan kesehatan. Kemudian, sesuai prosedur yang ditentukan
oleh dokter saya harus beristirahat dengan tiduran sekitar satu jam. Belum
selesai saya beristirahat, Ajudan memberitahukan bahwa saya diminta
menemui Presiden. Saya bergegas menuju ruangan di tempat biasanya Presiden
menerima tamu, termasuk menerima para Menteri. Saya terkejut karena
Presiden tidak ada di ruangan itu. Ketika saya tanyakan, barulah Ajudan
memberitahukan bahwa Presiden Soeharto menunggu saya di ruang kerja pada
bagian kediaman pribadi beliau.
Saya baru sadar walaupun sudah menjadi menteri selama sepuluh tahun lebih
dalam dua masa kerja kabinet, saya tidak pernah dan bahkan tidak tahu
bagian kediaman pribadi Presiden.
Jam tangan saya menunjukkan waktu sekitar pukul 22:15 hari Rabu 20 Mei
1998. Presiden Soeharto mempersilakan saya duduk di sebelah beliau. Kursi
hanya ada satu, di situ Presiden Soeharto duduk. Saya dipersilahkan beliau
menggeser puff, sebuah tempat duduk empat persegi, agar bisa lebih dekat.
Setelah hening sejenak, kemudian Presiden Soeharto mengatakan: Segala
usaha untuk menyelamatkan bangsa dan negara telah kita lakukan. Tetapi
Tuhan rupanya berkehendak lain. Bentrokan antara mahasiswa. dan ABRI tidak
boleh sampai terjadi. Saya tidak mau terjadi pertumpahan darah. Oleh
karena itu saya memutuskan untuk berhenti sebagai Presiden, menurut Pasal.
8 Undang-Undang Dasar 1945.“
Sebagai Menteri Sekretaris Negara, saya diminta untuk:
1. Mempersiapkan konsep Pernyataan Berhenti dari jabatan Presiden RI
2. Memberitahu pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat bahwa permintaan pimpinan
DPR untuk bertemu dan melakukan konsultasi denganPresiden akan
dilaksanakan hari Kamis, 21 Mei 1998 pukul 09:00 di ruang Jepara Istana
Merdeka.
3. Memberitahu Wakil Presiden B.J.Habibie agar hadir di Istana Merdeka
hari Kamis tanggal 21 Mei 1998 pukul 09:00 dan agar siap untuk mengucapkan
Sumpah Jabatan Presiden di hadapan Ketua Mahkamah Agung.
4. Memohon kehadiran Ketua Mahkamah Agung di Istana Merdeka hari Kamis 21
Mei 1998 pukul 09:00.
Memberitahu Pimpinan DPR, Wakil Presiden dan Ketua Mahkamah Agung saya
lakukan melalui telpon. Malam sudah larut menjelang tengah malam.
Bersama-sama staf saya segera mulai melakukan penyusunan naskah Pernyataan
Berhenti Presiden. Setelah mendapatkan pokok-pokok dan arahan, Saudara
Bambang Kesowo, waktu itu Wakil Sekretaris Kabinet, dan Saudara Soenarto
Soedharmo, ketika itu Asisten Khusus Menteri Sekretaris Negara mulai
menyusun konsep awal. Saudara Yusril Ihza Mahendra, ketika itu Pembantu
Asisten (Banas) Menteri Sekretaris Negara memberikan masukan-masukan
terutama dari segi hukum tata negara.
Konsep disusun secara bersama-sama, sebagaimana layaknya suatu pekerjaan
staf. Bukan hasil kerja orang perorangan. Setelah konsep diteliti dan
dikoreksi beberapa kali, pada pukul 03:00 menjelang subuh tanggal 21 Mei
1998 naskah Pernyataan telah siap untuk diajukan kepada Presiden.
Naskah diajukan melalui prosedur yang sudah baku pada Sekretariat Negara.
Konsep yang sudah diketik rapi diserahkan kepada Ajudan. Naskah tidak
dibawa langsung oleh pribadi saya sebagai Menteri Sekretaris Negara. Saya
tidak menyerahkannya secara pribadi kepada Presiden. Saya serahkan kepada
ajudan. Ajudan yang menaruh naskah itu di meja kerja Presiden. Jadi tidak
ada kontak dan hubungan yang bersifat pribadi. Semuanya berjalan secara
institusional.
Oleh karena itu adalah tidak benar sama sekali, apabila ada cerita-cerita
yang beredar dalam beberapa tulisan yang mengisahkan bahwa waktu naskah
diajukan ke tangan Presiden Soeharto, wajah beliau nampak berubah. Tidak
ada yang tahu bagaimana warna wajah beliau ketika membaca naskah di meja
kerja beliau pribadi, kecuali Allah yang Maha Tahu.
Setelah sembahyang subuh, pagi-pagi hari Kamis tanggal 21 Mei 1998, saya
terima naskah Pernyataan Berhenti Dari Jabatan Presiden melalui Ajudan.
Saya tidak menerimanya langsung dari tangan Presiden. Pada bagian akhir
naskah ada tambahan-tambahan dengan tulisan tangan Presiden. Tambahan
dengan tulisan tangan itu tidak pernah diketik, langsung saja dibacakan
oleh Presiden.
Pada hari Kamis, 21 Mei 1998 sekitar pukul 10:00 pagi di ruang upacara
Istana Merdeka, yang lazim ketika itu disebut ruang kredensial, Presiden
Soeharto menyampaikan pidato Pernyataan Berhenti Sebagai Presiden Republik
Indonesia.
Dalam pidatonya itu Presiden Soeharto antara lain menyatakan: “saya telah
menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan
Kabinet Pembangunan Nasional VII. Namun demikian kenyataan hingga hari ini
menunjukkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud, karena tidak
adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan Komite tersebut.
Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara yang
sebaik-baiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya
Komite Reformasi maka: perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi
tidak diperlukan lagi.
Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi
saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan
dengan baik. Oleh karena itu, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD
1945 dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan Pimpinan
Dewan Perwakilan Rakyat dan pimpinan Fraksi-Fraksi yang ada di dalamnya,
saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai
Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan Pernyataan ini,
pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998.“
Mulai saat itu Pak Harto bukan lagi seorang Presiden. Saya temani Pak
Harto meninggalkan Istana Merdeka pulang ke kediaman di Jalan Cendana 8.
Ketika sampai di kediaman, sebelum duduk di ruang keluarga, beliau
mengangkat kedua belah tangan sambil mengucap: “Allahu Akbar. Lepas sudah
beban yang terpikul di pundakku selama berpuluh-puluh tahun.“
Putera-puteri dan kemudian keluarga menyalami Pak Harto. Setelah ada
kesempatan, saya menyampaikan kepada beliau: “Mulai saat ini hubungan saya
dan Bapak adalah hubungan orang yang lebih tua yang saya hormati dengan
saya sebagai orang yang jauh lebih muda. Bapak bukan lagi seorang Presiden.
Saya bukan lagi seorang Menteri Sekretaris Negara, karena tadi di Istana
Merdeka saya telah menyampaikan surat kepada Presiden B.J Habibie
menyatakan mengundurkan diri dari jabatan Menteri Sekretaris Negara
terhitung sejak hari Kamis tanggal 21 Mei 1998jam 12:00 WIB.“
Pak Harto menjawab: “Mulai sekarang, kalau ada waktu, kamu datang-datang
ke rumah saya. Tidak perlu lagi harus mendaftar untuk meminta waktu.
Hubungan kita selanjutnya adalah dalam ikatan silaturrahmi dan
persahabatan.”
Silaturrahmi dan persahabatan.
Ketika dialog dengan Pak Harto terjadi waktu itu, saya tidak mampu
memahami arti kata silaturrahmi dan persahabatan itu dengan baik. Suasana
ketika itu diliputi rasa bercampur antara keharuan, terkejut, tidak
menduga dan lain sebagainya. Tetapi ketika waktu terus berjalan, saya
menyadari bahwa dialog dengan Pak Harto di hari Kamis 21 Mei 1998 itu
adalah tonggak perubahan dalam perjalanan hidup saya. Selama ini hubungan
saya dengan Pak Harto amat formal, sebagaimana layaknya hubungan seorang
Menteri dengan Presidennya.
Sebelum mulai menjadi Menteri Muda Sekretaris Kebinet tahun 1988, saya
memang tidak pernah bertemu secara pribadi dengan Pak Harto. Saya hampir
bisa memastikan beliau juga tidak mengenal saya. Bagaimana Pak Harto bisa
mendapatkan nama saya dan memasukkan saya dalam Kabinet Pembangunan V
tahun 1988, hanya Allah SWT yang mengetahuinya.
Sebagai Menteri. saya ketemu Presiden hanya apabila saya dipanggil. Atau
kalau ada sesuatu yang perlu dilaporkan. Permintaan waktu melalui ajudan
Presiden, sesuai prosedur. Saya berusaha memisahkan antara tugas jabatan
dan hal-hal yang bersifat pribadi. Kalau Presiden pergi memancing saya
tidak pernah ikut. Ketika Pak Harto naik haji, saya tidak masuk daftar
rombongan yang turut serta, walau terus terang saja kepingin sekali ikut.
Ketika Pak Harto ulang tahun, saya tanya ajudan apa saya sebaiknya datang
ke kediaman untuk mengucapkan selamat. Saya akhirnya tidak jadi datang,
ketika ajudan mengatakan bahwa acara ulang tahun Pak Harto terbatas pada
lingkungan keluarga terdekat saja.
Beberapa contoh kecil itu sekadar mengingatkan saya kembali, bagaimana
saya telah berusaha untuk memusatkan pelaksanaan tugas saya dalam
batas-batas kedinasan. Menjadi Menteri Sekretaris Kabinet yang paling
pokok adalah mengurus kantor kepresidenen agar berjalan dengan
sebaik-baiknya dan seefisien mungkin.
Manakala Pak Harto bukan Presiden lagi, maka hubungan menjadi ikatan
silaturrahmi dan persahabatan. Silaturrahmi, ikatan tali kasih sayang.
Persahabatan, menyertai dan mendampingi perjalanan hidup seseorang dalam
suka dan duka. Kalau suatu ketika Kiai atau Ustaz yang seyogianya memimpin
pembacaan doa berhalangan, saya siap menjadi tukang baca doa bersama Pak
Harto. Kalau keadaan memaksa, sekali-sekali saya menjadi khatib
menyampaikan khutbah pada shalat Jumat di rumah Pak Harto, kadang-kadang
bahkan merangkap menjadi imam.
Saya sadar terhadap kemampuan saya yang amat terbatas dalam ilmu agama
Islam. Yang ada pada diri saya sekedar sisa-sisa masa kecil ketika diasuh
almarhum orang tua saya. Beliau adalah seorang ulama. Saya juga sadar,
sama sekali tidak memiliki latar belakang pengetahuan di bidang ilmu hukum.
Karena itu ketika Pak Harto harus menghadapi proses hukum, itu adalah
bagiannya Pak Is. Saya paling-paling ikut-ikutan di belakang.
Kemudian barulah sesudah Pak Harto berhenti dari jabatan sebagai Presiden,
ketika beliau belum jatuh sakit, saya diajak beliau ikut memancing ke laut.
Itulah pengalaman pertama kalinya memancing ke laut lepas dalam hidup saya.
Ketika Pak Harto sudah berbilang tahun tidak memegang jabatan Presiden,
hati nurani saya merasakan sentuhan yang dalam. Ada doa harapan muncul
dalam lubuk hati saya, kiranya dengan memelihara silaturrami dan
persahabatan dengan Pak Harto, Allah SWT akan menerimanya sebagai wujud
melaksanakan perintah-Nya untuk memelihara hubungan silaturrahmi dan
persahabatan (Al Qur‘an; Surah Ar Ra‘ad ayat 20 dan 21).
Mudah-mudahan saya terhindar dari orang-orang yang semasa Pak Harto
memegang jabatan Presiden, selalu mendekat-dekat, menjilat dan mencari
muka. Pada waktu Pak Harto tidak lagi menjadi Presiden orang-orang itu
pula yang bersuara lantang menghujat, mencaci, melempar segala kesalahan
kepada Pak Harto. Kelompok orang-orang seperti itu memperoleh kutukan
Allah dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk, jahanam (Al Qur‘an,
Surah Ar Ra’ad ayat 25).
Cuplikan di atas adalah sekelumit dari rangkaian peristiwa yang begitu
banyak sambung bersambung di sekitar Pernyataan Berhenti Presiden Soeharto
Dari Jabatan Presiden Republik Indonesia. Mungkin suatu ketika akan datang
saatnya untuk memaparkan fakta sejarah menurut apa adanya, apa yang
sesungguhnya benar-benar terjadi. Pemaparan fakta tanpa terkontaminasi
bumbu-bumbu khayalan.
Pada hari ulang tahun Pak Harto ke-82, 8 Juni 2001, saya memohonkan doa,
kiranya Allah SWT mengkurniakan kepada PakHarto husnul khatimah,
perjalanan hidup yang hingga akhir penuh kebajikan. Semoga Allah SWT
menganugerahkan kepada Pak Harto panjang umur, usia yang panjang dengan
diberikan kurnia kesehatan yang penuh dengan iman dan taqwa.
Amin ya Allah, ya mujibassailin.
*** SMC, Dipetik dari sambutan pada buku: Proses Peradilan
Soeharto (Ismail Saleh)
|
|
|