Prof.Dr.H.Emil Salim:
Pak Harto Selamatkan Bangsa dari Kehancuran
Sejarah pertumbuhan ekonomi di awal era Orde Baru, sebetulnya patut
diacungi jempol. Jika toh sekarang rezim Soeharto dituding hanya
mewariskan utang bertumpuk-tumpuk atau sisa kebobrokan sistem ekonomi
mikro dan makro yang menyesakkan, pemerintah Orde Baru ternyata pernah
menyelamatkan bangsa ini dari gelombang kehancuran.
Laju inflasi menjelang peristiwa G-30-S/PKI contohnya, bisa dibilang edan.
Jangan kaget, indeks biaya hidup tahun 1960 sampai tahun 1966, naik 438
kali! Harga beras naik 824 kali! Harga tekstil naik 717 kali! Nah,
sementara harga-harga itu mengganas, nilai rupiah sekarat dari Rp.160 saja
menjadi Rp.120 ribu!
Itu semua agaknya menjadi bukti ilustratif betapa malapetaka yang
menghantam bangsa Indonesia saat itu demikian dahsyat. Belum lagi
persoalan ekonomi yang mencabuti satu per satu ajal rakyat Indonesia ini
masih harus dipinggirkan oleh drama pergulatan politik nasional. Selepas
pecahnya gerakan 30 September, panggung politik nasional memang diwarnai
intrik-intrik dahsyat merebut tampuk kekuasaan pemerintah.
Di tengah pergulatan elit politik nasional, penanganan masalah ekonomi
terpaksa menempuh cara-cara politis. Maklum dua kekuatan besar -- kelompak
komunis dan anti-komunis (digalang ABRI) -- sama-sama bertarung menunggu
tangkat estafet kekuasaan dari Presiden Soekarno.
Desakan hebat untuk membubarkan PKI -- yang disebut-sebut kurang digubris
Bung Karna -- memaksa Proklamator RI itu harus lengser dari Istana. la
diganti Soeharto, yang sukses menumpas PKI. Demikian Prof.DR.H.Emil Salim
mengemukakan pada kuliah program sejarah lisan Indonesia (1965- 1971 ),
Kamis, di CSIS (Centre for Strategic and International Studies) Jakarta.
Sanering
Pada awal-awalnya, menurut ekonom Emil Salim dan Frans Seda, pemerintahan
Orde Baru diakui cukup progresif. Pemerintahan yang dikomandoi Pak Harto
ini mampu memadukan semua komponen masyarakat dalam mengatasi persoalan
bangsa. Di bidang ekonomi, para ekonom dari FE-UI di antaranya, dapat
dirangkul dalam menyumbangkan konsep alternatif untuk memulihkan
perekonomian nasional.
Misalnya saja sanering rupiah atau menghapus tiga nol di balik angka
ribuan tanpa mengusahakan rencana pengendalian defisit anggaran. Meski
dinilai konyol, langkah politis-ekonomis ini efektif menerapkan tujuan
ganda: memulihkan ekonomi sekaligus mengurangi kontrol kelompok PKI yang
menggondol kantung-kantung rupiah.
Kecuali itu, upaya lain yang sempat digalang kelompok ekonom adalah
membuat alternatif seperti menaikkan harga bensin atau tarif angkutan umum,
serta menaikkan gaji pegawai negeri.
Pintu masukan bagi pemerintah, juga dikukuhkan dalam hasil sidang MPRS
Juni 1966. Di sini mulai dibuka kran masukan untuk merumuskan landasan
komprehensif mengenai kebijakan ekonomi baru. Ambil contoh, Ketetapan MPRS
No. 23/66 tentang pembaharuan kebijakan landasan ekonomi, keuangan, dan
pembangunan. Ketetapan ini memberi dasar bagi Kabinet Ampera (25 Juli
1966) dan Dewan Stabilisasi Ekonomi (11 Agustus 1966) untuk melakukan
upaya-upaya pemulihan ekonomi nasional.
Jurus para ekonom yang diakomodir pemerintahan Orde Baru itu, paling tidak
mampu menyusun program rehabilitasi dan stabilisasi ekonomi yang cukup
komprehensif. Ada lima jurus yang dianggap manjur. Pertama, pengendalian
inflasi melalui kebijakan anggaran berimbang, dan kebijakan moneter ketat.
Kedua, pencukupan kebutuhan pangan. Ketiga, pencukupan kebutuhan sandang.
Keempat, rehabilitasi berbagai sarana dan prasarana ekonomi. Kelima,
peningkatan ekspor dengan mengembalikan share sepenuhnya pada eksportir.
Kebijakan jitu lainnya yang digulirkan pemerintah saat itu adalah
deregulasi dan debirokratisasi (Paket 10 Februari dan 28 Juli 1967, dan
seterusnya). Pemerintah juga membuka diri untuk penanaman modal asing,
meski dilakukan secara bertahap.
Liang Kubur
Hasilnya, laju inflasi mulai jinak. Dari kisaran angka 650 persen (tahun
1966), melunak jadi 100 persen (1967), turun lagi 50 persen (1968), bahkan
terkendali di bilangan 13 persen (1969). “Ini prestasi yang diraih
pemerintah saat itu," ujar Emil Salim.
Ada pertanyaan dari floor, yang menyebutkan kelompok ekonom macam Emil
Salim, Widjojo Nitisastro, Frans Seda hanya dimanfaatkan pemerintah
Soeharto untuk melanggengkan kekuasaan. "Sebagai intelektual, saya hanya
memanfaatkan ilmu untuk kepentingan rakyat Indonesia. Terserah orang mau
bilang apa,” ujar Emil Salim, menjawab pertanyaan tersebut.
Emil Salim juga mengakui bahwa di era 60-70an Pak Harto begitu piawai
memadukan komponen bangsa, sampai-sampai republik ini bisa selamat dari
liang kubur di pertengahan tahun 60-an. Bahkan Frans Seda berpendapat,
“Memang setelah anak-anaknya (Soeharto) gede, kebijakan ekonomi jadi bias.
Setelah merasa memperoleh personalized power, Pak Harto memborong semua
sejarah. Seolah-olah, keberhasilan pemerintahan Orde Baru adalah berkat
srateginya sendiri!“
Frans Seda berani menilai bahwa pada awal-awalnya, pemerintahan Orde Baru
bisa dikatakan sebagai pemerintahan demokratis, terbuka, transparan, dan
komunikatif. Itu sebabnya ia memisahkan dua kekuatan, yakni pemerintahan
Orde Baru dan rezim Soeharto. Pemerintahan Orde Baru yang membawa semangat
murni dan konsekuen dalam menjalankan amanat Pancasila serta UUD 1945,
katanya, hanya berkibar sampai 1975/1976. Sedangkan rezim Soeharto bangkit
1983.
Golkar dan ABRI
Di antara 1975 sampai 1983 ini, terjadi proses transisi yang ditandai dua
macam krisis. Krisis politik diledakkan oleh peristiwa Malari, sementara
krisis ekonomi diwakili oleh kasus Pertamina. Soeharto, memenangi kedua
krisis tersebut. sampai kembali terpilih tiga kali berturut-turut dengan
dukungan riil Golkar dan ABRI. “Jadi keliru kalau ada yang menyatakan
semua komponen pemerintahan Orde Baru itu salah,” katanya menegaskan.
Terlepas dari itu, Emil Salim menggarisbawahi lima butir hikmah yang harus
selalu dijadikan pedoman oleh pemerintahan pasca Orde Baru. Pertama,
gagasan-gagasan ekonomi harus sederhana dan bisa menyentuh kebutuhan
rakyat, dalam arti bergerak pada alam pikir yang rasional. Kedua,
mengembangkan jaringan ekonomi yang luas untuk kepentingan yang berkait
dengan gagasan-gagasan pembaharuan. Ketiga, bekerja dalam skala prioritas,
misalnya membuat evaluasi kerja per 1OO hari, 1000 hari atau sejuta hari.
Keempat, alur fragmatisme harus dijadikan acuan untuk mencari jalan keluar.
Dan yang kelima, orientasi tanpa pamrih demi rakyat kecil.
Catatan lain menyibak sosok Presiden Bung Karno sebagai pemimpin yang
tidak mau dipusingkan oleh urusan ekonomi, alias cuma mau mengurusi
politik tok. Sebab itu, ia lantas menunjuk Mohammad Hatta. Padahal,
kebijakan ekonomi tanpa diimbangi oleh kebijakan politik yang padu, adalah
sebuah ketimpangan. Dan, akankah ketimpangan serupa juga bakal dijalankan
oleh pemerintah mendatang?
*** Soeharto Media Center, Sumber Hasyim, Suara Karya 27 Agustus
1999
|
|
|