Jenderal AH. Nasution:
Dewan Jenderal dan Dokumen "Gilchrist"
Jakarta 9 Agustus 1999: Pada awal Mei 1965, Brigjen Polisi Sutarto Kepala
Staf BPI memberitahukan kepada Subandrio tentang adanya "Dewan Jenderal"
yang akan melakukan coup d'tat karena tidak menyetujui kebijaksanaan
Presiden. Sumber beritanya berasal dari Hariyodisastro, anggota DPR-GR
dari golongan PKI, Wirantomo dari CGMI, dan Syarifudin Tanjung, anggota
kader inti Front Marhaenis. Berita ini tidak pernah dicek kebenarannya
baik oleh Sutarto maupun Subandrio. Dalih ini kemudian diterjemahkan oleh
PKI untuk membenarkan G-30-S/PKI-nya (lebih baik mendahului daripada
didahului, demikian D.N. Aidit, vide berkas perkara Nyono).
Pada pertengahan bulan Mei 1965, Subandrio melarui pos (Jakarta) telah
menerima sehelai surat tanpa ada tanda tangan dan tanpa alamat pengirim
dengan lampiran sebuah dokumen konsep surat Gilchrist yang juga tidak
ditandatangani. Dalam dokumen itu terdapat kata-kata our local army
friends.
Pada tanggal 26 Mei 1965, kurang lebih jam 11.00 pagi, Subandrio tanpa
menyelidiki lebih jauh dokumen itu telah melaporkan kepada Presiden untuk
segera mengambil tindakan dengan memerintahkan, agar keempat Panglima
Angkatan Bersenjata menghadap di Istana Merdeka untuk mengadakan rapat, di
mana Presiden secara langsung menanyakan kepada Jenderal A.Yani tentang
Dewan Jenderal yang bertugas menilai kebijaksanaan Presiden. Jenderal A.
Yani menjelaskan bahwa Dewan Jenderal itu tidak ada, yang ada adalah suatu
Dewan yang terdiri dari para Jenderal Angkatan Darat yang bertugas
meneliti kenaikan pangkat dari Jabatan Perwira Tinggi Angkatan Darat.
Dari kondisi yang berkembang sekarang melalui alam keterbukaan ini, para
anggota PKI yang telah membunuh para perwira terbaik Angkatan Darat pada
tahun 1965 itu, berusaha dengan berbagai dalih seakan-akan mereka tidak
bersalah, bahwa PKI hanyalah korban Angkatan Darat. Sebagai orang yang
lama menangani masalah keamanan negara dan sebagai musuh utama PKI,
mengetahui benar dalih-dalih PKI untuk melepaskan diri dari
perbuatan-perbuatannya yang menghalalkan segala cara.
Dari berbagai laporan yang saya peroleh, tokoh Lekra Pramudya Ananta Toer
sedang melakukan perlawatan di beberapa negara, untuk menjelaskan
keperluan yang sama seperti pernyataan Kolonel A. Latief dan Sersan
Boengkoes.
Kepada generasi muda perlu diingatkan, bahwa pemutarbalikan fakta di masa
sekarang, tujuan utamanya adalah untuk memporak-porandakan posisi TNI di
mata rakyat. Kemudian tujuan akhirnya adalah menghancurkan Negara Kesatuan
Republik Indonesia secara sistematis yang gejalanya semakin nyata dimulai
dari ujung barat Indonesia (Aceh) dan ujung timur (Irian Jaya).
Bila generasi muda terbius dengan HAM tanpa memupuk rasa Nasionalisme,
maka suatu saat pasti menjadi 'mangsa' negara-negara lain yang lebih kuat.
Mempertentangkan sesama Angkatan sebagaimana dulu dilakukan PKI, sekarang
sudah mulai tampak. Pihak lain yang lebih kuat yang dulu bermusuhan dengan
Komunis, sekarang tampak menjalin kerjasama tapi dengan tujuan yang
berbeda.
Memang Partai Komunis telah hancur di beberapa negeri, tetapi sebagai
ideologi tetap terus berkembang. Bahkan tidak tertutup kemungkinan ada
pihak lain yang tidak ingin tetap utuhnya Negara Kesatuan Republik
Indonesia ikut bermain meniupkan pertentangan di antara sesama Angkatan,
sebagaimana dulu pernah dilakukan oleh PKI melalui BPI (Badan Pusat
Intelejen).
*** SMC, Dipetik dari sambutan pada buku: Dua Jenderal Besar
Bicara tentang Gestapu/PKI.
|
|
|