Soeharto Media Center

Pusat Kajian dan Informasi

 


 

  Beranda
  Berita
  Biografi
  Pidato
  Opini
  Surat
  Museum
  Buku
  Album
  Yayasan
  Ibu Tien
  Kabinet
  Search
  English
  Link
   

 

 

IBU TIEN:

  Ibu Tien
 
   
Ny. A. Mien Sugandhi

Ibu Tien Berdisiplin Tinggi & Kuat Pendirian


Saya adalah istri seorang prajurit, keluarga ABRI, sedang Ibu Tien Soeharto juga keluarga ABRI, otomatis kami sudah saling mengenal dengan baik sejak tahun '57. Kebetulan sekali, suami kakak Ibu Tien, yaitu Bapak Oudang adalah sahabat karib bapak saya, Bapak Soeprapto Djojokoesumo, beliau berdua sama-sama berkarier di Kepolisian, lantas Ibu Oudang pun menjadi teman dekat Ibu saya.

Saya semakin dekat dengan Ibu Tien ketika sebelum G-30-S PKI meletus. Ada pelatihan-pelatihan para istri tentara yang dipimpin oleh Ibu Yani. Kami dilatih seminggu dua kali sebagai sukarelawati. Terkadang bila kami mengadakan rapat, hadir pula Ibu Tien dengan masih menggendong Mas Tommy, bahkan karena saking aktifnya, Ibu Tien pernah keguguran kandungannya, kalau tidak salah adiknya Mas Tommy.

Suami saya dari ajudan presiden dipindah ke Hankam. Pada saat itu Pak Harto menjabat sebagai Menhankam/Pangab, sebelum menjadi pejabat Presiden. Saat G-30-S PKI meletus, kami sering berkumpul untuk piket. Dari situ kami semakin dekat dengan Ibu Tien.

Ibu Tien senang pada saya, mungkin karena saya suka bicara ceplas- ceplos, tidak pernah tedeng aling-aling, apa adanya. Di tengah suasana yang tegang dan kaku, saya sering nyeplos yang membuat suasana segar. Boleh dibilang saya bisa dianggap sebagai penghibur seperti Sri Mulat.

Pada suatu ketika, Ibu Tien mendirikan Ikatan Kesejahteraan Keluarga Hankam. Beliau menjabat sebagai Ketua Umum, lalu Ibu Tien memilih saya sebagai sekretaris umum. Saya menjadi sekretaris beliau hingga 8 tahun. Ke mana pun Ibu Tien pergi saya selalu mendampingi. Begitu juga saat Ibu Tien mendirikan Dharma Pertiwi. Tekad beliau mendirikan Dharma Pertiwi adalah ingin mempersatukan para istri ABRI. Memang sudah ada Persit, Bhayangkari, Jalasenastri, dan Ardhyagarini, namun Ibu Tien tidak ingin ada kesenjangan atau pengkotak-kotakan di antara para istri ABRI.

Disiplin tinggi adalah salah satu sifat Ibu Tien. Setiap kali ada rapat atau menghadiri suatu kegiatan, beliau selalu datang tepat waktu. Selain itu, beliau tidak pernah mengecewakan siapa pun yang pernah mengundang kehadiran beliau. Entah itu orang berpangkat tinggi atau rendah, organisasi besar atau kecil, kalau memang tidak ada halangan beliau pasti hadir.

Pada kira-kira tahun '68 saya punya salon kecantikan, dan saya adalah salah satu pendiri Ikatan Ahli Kecantikan Indonesia, Wijaya Kusuma. Dan Ihu Tien mempercayakan keamanan Wisma Negara kepada saya, dan saya disarankan memhuka salon di situ. Tentu saja kami melayani tamu-tamu negara. Hingga saat ini kepercayaan itu masih diberikan kepada saya, meski sejak saya menjadi Ketua Umum KOWANI bukan saya sendiri yang menangani. Ya, regenerasilah.

Nasehat Ibu Tien yang sangat melekat di hati adalah jadilah mitra sejajar suami, jangan sekali-kali mengungguli. Contohnya, meski betapa sedang sihuknya .saya rapat atau kerja di kantor, tapi bila tiba saat suami pulang kantor ya harus pulang lebih dulu untuk menyambut suami dan melayani semua keperluannya. Bila suami dan anak beres, maka boleh .kembali meneruskan tugasnya. Bagaimana pun sibuknya seorang istri, harus selalu mengutamakan keluarganya. Itu yang selalu Ibu Tien ingatkan kepada saya.

Ibu Tien juga tidak pernah mencampuri urusan rumah tangga orang lain, kecuali orang tersebut yang mengeluh atau cerita pada beliau. Barulah beliau memberi nasihat atau saran-saran.

Sikap Ibu Tien yang halus, dan lembut itu bertolak belakang dengan saya. Kalau saya 'kan ceplas-ceplos. Bahkan saking halusnya hingga dalam suatu rapat, bila ada peserta rapat yang membuat kesalahan, beliau tidak marah atau pun menegur secara langsung, beliau hanya menyindir secara halus. Jadi hanya yang berbuat kesalahan saja yang merasa tersindir.

Ibu Tien paling tidak suka bila ada orang yang berhuat salah tetapi tidak mau berterus terang mengakuinya, malah melempar kesalahan tersebut kepada orang lain. Misal, ini masalahnya begini Bu, saya salah memang tapi....... nah kata tapi dan seterusnya itulah yang beliau tidak suka karena berarti orang tersebut melempar kesalahan kepada orang lain atau situasi yang tidak jelas, dan orang tersebut pun tampak kurang bertanggung jawab.

Menunda-nunda pekerjaan, adalah yang paling tidak disukai beliau. Bila ada pekerjaan, maka segeralah diselesaikan dengan baik dan benar, sehingga tidak menjadi beban. Lebih baik memikirkan program baru lagi. Bila kami membuat laporan atau proposal pun harus rapi dan jelas, tidak boleh banyak coretan. Dan harus sistimatis, dimulai dengan pendahuluan, tema, tujuan, program, dan anggaran. Laporan keuangan harus tepat angka dan jumlah, tidak boleh lebih atau kurang. Begitu pula agenda rapat harus dipatuhi, tidak boleh membicarakan hal-hal lain di luar agenda yang kemudian menyita banyak waktu yang berguna.

Terus terang saya sangat berterima kasih kepada Ibu Tien. Berkat beliaulah saya bisa seperti ini. Ya, saya memang sangat beruntung, karena pernah mendampingi beliau selama 8 tahun. Saya banyak menimba ilmu pengetahuan, terutama ajaran orang dulu yang sarat dengan falsafah Jawa kuno, namun masih tetap relevan diterapkan dalam kehidupan masa kini.

Ibu Tien bisa seperti sekarang ini, bukan tanpa perjuangan yang panjang. Sejak dulu beliau berperan aktif dan ikut berjuang demi bangsa dan negara, misal sebagai Laskar Wanita. Tentu saja kehidupan beliau juga dimulai dari bawah, tidak langsung menjadi istri Pangab, kemudian menjadi istri Presiden RI. Ibu Tien pernah merasakan pahit getirnya menjadi istri prajurit yang dikejar-kejar Belanda dan nyawa sebagai taruhannya.

Sewaktu reuni Laskar Wanita di TMII kira-kira tahun '93, teman- teman Ibu Tien rata-rata sudah renta dan ompong. Ibu Tien kelihatan bahagia dan terharu bisa bertemu dengan teman-teman seperjuangan dulu. Satu persatu disalami dan diajak bernostalgia, bincang-bincang semasa muda dulu.

Ibu Tien memang patut menjadi teladan bagi masyarakat dan bangsa. Beliau tidak pernah ragu dalam bertindak, beliau tetap berpendirian kuat meski didera oleh kritik dan kecaman dari pelbagai pihak. Contohnya ketika beliau punya ide membangun TMII. Kalau saja Ibu Tien tidak yakin bahwa proyek tersebut akan bermanfaat bagi bangsa Indonesia di kemudian hari, tentu sudah mundur saat mendapat kecaman pedas dari para demonstran. Begitu pula proyek lain, yang merupakan ide Ibu Tien yang kini sudah tampak jelas manfaatnya bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya khususnya, dan bagi bangsa Indonesia umumnya. Misal Rumah Sakit Jompo Tresna Werdha, Taman Buah Mekar Sari dan lain sebagainya.

Disamping itu semua, saya sungguh terkesan dan berterima kasih atas petuah, petunjuk dan pesan-pesan Ibu Tien Soeharto selaku Ibu Negara dalam upaya peningkatan peranan wanita dalam pembangunan. Perhatian beliau sungguh besar terhadap kemajuan, kedudukan dan peranan wanita sebagai mitra sejajar pria.

Kepada kaum wanita dianjurkan untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri dan kemandiriannya, dengan menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) disamping meningkatkan iman dan takwanya (Imtak) kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kepada para suami isteri, sebagai orang tua, dianjurkan untuk membentuk dan membina keluarga yang sakinah, serta mendidik dan mengupayakan tumbuh kembang anak sejak sedini mungkin dengan bertumpu pada ajaran agama dan nilai luhur budaya bangsa. Kepada kaum wanita yang bekerja di luar rumah tangga, di dalam masyarakat, diminta untuk tidak meninggalkan tugas dan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga, sebagai isteri, dan ibu bagi anak- anaknya. Kepada kaum ibu dianjurkan untuk memberikan ASI eksk1usif kepada bayinya sekurang-kurangnya selama 4 bulan pertama kelahirannya.

Kepada tokoh wanita pejuang diharapkan untuk tetap berpartisipasi sesuai keterampilannya dalam pembangunan, menularkan semangat dan dedikasinya serta menjadi contoh tauladan bagi para generasi penerus perjuangan bangsa.

Banyak lagi gagasan besar dan strategik di berbagai bidang, serta pesan dan kesan beliau yang saya jadikan bekal bagi pelaksanaan tugas saya dalam upaya peningkatan peranan wanita dalam pembangunan bangsa dalam PJP-II. Sayang sekali, Ibu Tien Soeharto tidak dapat menyaksikan pelaksanaan petuah dan pesan-pesannya itu karena telah berpulang ke Rahmatullah dalam keadaan khusnul khotimah.

Berpulangnya Almarhumah Ibu Hajjah Fatimah Tien Soeharto merupakan kehilangan bagi kita semua, utamanya kaum wanita dan seluruh rakyat Indonesia. Namun, amal bhakti dan jasa-jasa serta ketauladanannya akan tetap berguna bagi bangsa Indonesia dalam melanjutkan perjuangan mengisi kemerdekaan. Sesungguhnyalah, bagi saya Almarhumah Ibu Hajjah Fatimah Tien Soeharto adalah seorang wanita Pahlawan Nasional.


*SMC, dari Buku Rangkaian Melati

 

*** Soeharto Media Center

 
     
     
Copyright © 2003 SoehartoCenter-YCPPI. Design and maintainance by Esero.