Ny. Junisa Alatas
Ibu Negara Daiam Arti yang Sebenarnya
Pertama kali berkesempatan bertemu muka langsung dengan Ibu Tien, ialah
pada waktu suami saya dan kami sekeluarga ditempatkan di Washington, DC,
sebagai Minister Counsellor dan Bapak Presiden beserta Ibu Tien mengadakan
kunjungan resmi ke Amerika Serikat pada tahun 1970.
Seperti diketahui, Ibu Tien aktif dalam kepramukaan, sedangkan saya
menangani kepramukaan di Washington, DC. Dalam kaitan itulah saya
mendampingi beliau dalam pertemuan beliau dengan tokoh-tokoh kepramukaan
di Amerika Serikat. Ibu Tien ingin tahu lebih banyak tentang kepramukaan
yang ada di luar negeri.
Sekembali dari penugasan di Washington, DC, di Jakarta saya berkesempatan
untuk lebih sering bertemu beliau pada berbagai acara dan peristiwa.
Apalagi dalam kurun waktu kurang lebih 5 (lima) tahun (Th. 1978-1982)
selama suami saya bertugas sebagai Sekretaris Wakil Presiden (alm. Bapak
Adam Malik, seusai kami bertugas di P.T.R. I. Jenewa).
Pada tahun 1988, kami dipanggil pulang ke Jakarta dari penugasan sebagai
Duta Besar/Wakil Tetap R.I. di P.B.B. New York, dan suami saya diberi
kehormatan oleh Bapak Presiden Soeharto untuk menjabat Menteri Luar Negeri.
Sejak itu hubungan saya dengan Ibu Tien tentunya menjadi semakin akrab dan
teratur, terutama dalam rangka mendampingi beliau pada berbagai acara
kenegaraan, menyambut tamu negara maupun menyertai beliau mengadakan
kunjungan ke beberapa negara sahabat.
Di sinilah saya mendapat kesempatan untuk mengenallebih dekat kepribadian
Ibu Tien, baik dalam menghadapi berbagai acara resmi, maupun di waktu
senggang dan santai. Ada beberapa sifat dan perilaku Ibu Tien yang sangat
berkesan pada saya dan saya kira pada setiap orang yang mengenal beliau.
Sifat ke-ibuan yang sangat melekat, tutur kata dan perilaku yang lemah
lembut, rasa peri-kemanusiaan dan rasa sosial yang tinggi merupakan
ciri-ciri khas kepribadian beliau yang dikenang oleh semua.
Dalam berbusana, beliau sangat memperhatikan kerapian dan keserasian,
sehingga selalu tampak anggun. Namun, saya kira benar sekali observasi
sementara orang bahwa di balik kelemah-lembutan tadi, terdapat sosok
pribadi seorang wanita yang berpendirian teguh, seorang ibu pendamping
suami dan pengayom keluarga yang telah senantiasa merupakan tiang-sendi
kekuatan utama bagi keluarga dan kerabat terdekatnya.
Dalam bergaul dengan berbagai tamu negara dan dalam mengadakan kunjungan
resmi ke pelbagai negara pun sikap dan perilaku Ibu Tien yang selalu
tampak tenang, anggun dan berwibawa sungguh mengesankan. Dalam acara
kunjungan di berbagai negara, beliau selalu memilih kunjungan ke Rumah
Sakit, Panti Asuhan atau pun sesuatu yang bertalian dengan kerja- bakti
sosial. Beliau juga menunjukkan perhatian besar terhadap flora dan
tanaman-tanaman setempat.
Menarik pula kemampuan Ibu Tien untuk segera menyesuaikan diri dengan adat
istiadat dan makanan setempat, betapa pun kadang-kadang sangat berbeda
wujud dan seleranya dari apa yang ada di tanah-air. Dan yang sungguh patut
diteladani ialah bahwa selama bepergian dan mengikuti aneka-ragam acara,
beliau tidak pernah menunjukkan muka suram atau kejengkelan di muka umum,
senantiasa senyum dan ramah, walaupun pasti sering merasa letih atau
mungkin bosan melakukan acara-acara tersebut.
Salah satu perjalanan terakhir kami ke luar negeri mendampingi Bapak
Presiden dan Ibu Tien ialah pada bulan Oktober 1995 yang lalu, yaitu
dimana Bapak Presiden dan Ibu Tien pertama mengadakan kunjungan resmi ke
Suriname, kemudian menghadiri peringatan Hari- Jadi ke- 50 Perserikatan
Bangsa-Bangsa di New York, kemudian ke Cartagena, Colombia menghadiri KTT
ke-11 Gerakan Non- Blok dan akhirnya melaksanakan Ibadah Umroh di Mekkah.
Perjalanan tersebut sungguh sangat panjang dan kadang-kadang agak
meletihkan, tapi perjalanan tersebut merupakan kenangan yang manis sekali
bagi saya, karena saya berkesempatan menjalin hubungan yang dekat dengan
Ibu Tien.
Suatu sisi lain dari pribadi Ibu Tien Soeharto ialah sumbangan
pemikiran-pemikiran serta jasa-jasa beliau sebagai Ibu Negara. Dalam
hubungan ini, gagasan dan perwujudan Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
akan tercatat dalam sejarah pembangunan Indonesia sebagai salah satu
gagasan cemerlang dan peninggalan monumental beliau kepada bangsa dan
negara Republik Indonesia dan yang kini diakui pula nilai tingginya
Oleh pengunjung mancanegara. Disamping TMII tersebut rasa sosial dan
kemanusiaan luhur Ibu Tien akan senantiasa dikenang pula melalui
perwujudan berbagai institusi dan proyek seperti Rumah Sakit Anak, Rumah
Sakit Jantung, Taman Mekar Sari dll.
Pada tanggal 28 April1996 yang lalu, bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha,
pada saat saya dan suami baru saja rampung melaksanakan Ibadah Haji di
Mekkah, berita duka tiba bagaikan halilintar di siang hari. Ibu Tien telah
mendahului meninggalkan kita berpulang menghadap Khalik-Nya. Dengan rasa
sedih dan kehilangan yang tak terhingga kita semua hanya bisa berdoa
semoga arwah beliau mendapat tempat yang layak di.sisi Allah SWT, sesuai
amal ibadahnya. Amien ya Robbal Alamiin.
*SMC, dari Buku Rangkaian Melati
*** Soeharto Media Center |
|
 |