Soeharto Media Center

Pusat Kajian dan Informasi

 


 

  Beranda
  Berita
  Biografi
  Pidato
  Opini
  Surat
  Museum
  Buku
  Album
  Yayasan
  Ibu Tien
  Kabinet
  Search
  English
  Link
   

 

 

IBU TIEN:

  Ibu Tien
 
   
Ny. Inten Soeweno

Ibu Tien Punya Kharisma Luar Biasa


Saya mendengar nama Ibu Tien Soeharto ketika saya masih remaja. Ketika itu saya mengikuti pendidikan dalam arti kata pendidikan formal. Pengenalan selanjutnya setelah saya menikah dengan seorang ABRI. Pada tahun 1976 suami saya dipercaya sebagai Panglima Udayana di Bali, jadi saya mengenal beliau masih dari jauh. Pada suatu kesempatan Bapak Presiden Soeharto ke Bali akan membuka suatu peresmian. Sebagai tuan rumah tentunya Muspida setempat turut hadir dalam acara tersebut. Seingat saya itulah pertama kali saya bertemu langsung dan bersalaman dengan Ibu Tien Soeharto.

Kemudian setelah suami saya menjabat sebagai Pangkostrad pada tahun 1986, saya lebih sering lagi menghadap beliau dalam kapasitas sebagai seorang pengurus pada organisasi Persit Kartika Chandra Kirana Pengurus Pusat dan selama 3 tahun itu juga saya menjabat sebagai Ketua Seksi Organisasi Persit Kartika Chandra Kirana.

Biasanya kalau Persit Kartika Chandra Kirana akan mengadakan ulang tahun, panitia yang terdiri dari para pengurus sebelumnya menghadap Ibu Tien Soeharto untuk mohon restu dan petunjuk sekaligus memohon kesediaan beliau untuk hadir.

Sewaktu audensi, topik yang kami bicarakan adalah permasalahan yang berkaitan dalam rangka hari ulang tahun Persit. Pada kesempatan tersebut beliau menyampaikan bahwa organisasi Persit Kartika Chandra Kirana sebagai organisasi isteri prajurit agar betul-betul memikirkan kesejahteraan dan keterampilan anggotanya. Terutama para isteri bawahan harus betul-betul dipikirkan, diperhatikan, diberikan suatu keterampilan, karena mereka sering ditinggal suami bertugas ke luar daerah. Mereka harus mengasuh dan membesarkan anak-anaknya, mereka itu berperan ganda jadi harus mempunyai rasa percaya diri yang kuat.

Kemudian saya menjadi anggota legislatif tahun 1987 sampai 1993. Selanjutnya pada tahun 1993 saya mendapat kepercayaan dari Bapak Presiden ditunjuk sebagai Menteri Sosial RI. Dari sinilah saya mulai mengenal lebih dekat lagi dengan Ibu Negara yang tercinta. Khususnya menjelang Hari Pahlawan 10 Nopember maupun Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) setiap bulan Desember kami menghadap Ibu Negara, dan juga kadang-kadang kami menghadap kalau ada sesuatu yang memang perlu atau ada kepentingan dilaporkan kepada Ibu Negara.

Setiap saya mendapat kesempatan sowan atau menghadap beliau, saya mendapai kesan yang sangat dalam, meskipun saya baru dekat dalam arti saya bisa menghadap langsung. Beliau senantiasa bertutur kata merendah meski kedudukan beliau sebagai Ibu Negara. Beliau selalu mengatakan kepada saya "1bu Inten Soeweno kan Menteri, jadi jalurnya dengan saya tidak ada. Yang bisa memberikan instruksi dan memberikan pengarahan adalah Bapak Presiden, karena Ibu Inten selaku Menteri Sosial RI adalah pembantu Presiden. " Dalam nada bercanda beliau mengatakan "Ibu Inten bukan pembantu saya. "
Ucapan beliau dari setiap tutur katanya betul-betul sangat terkesan ,. bagi saya, beliau betul-betul menempatkan diri sebagai Isteri Presiden yang penuh keibuan.

Pada suatu kesempatan saya mewakili beliau untuk menghadiri suatu konferensi di Paris mengenai hak-hak Anak yang diselenggarakan oleh suatu Yayasan Internasional. Yayasan Internasional tersebut menyampaikan undangan kepada Ibu Tien Soeharto di dalam kapasitasnya selaku Ibu Negara. Beliau diminta untuk memberikan penjelasan mengenai bagaimana yang dilakukan dalam mengatasi permasalahan hak-hak anak di Indonesia. Karena kesibukan maka beliau menunjuk saya untuk menghadiri konferensi tersebut. Sebelum keberangkatan kami ke Paris, beliau menyampaikan bahwa apa yang beliau kerjakan orientasinya adalah pembinaan anak. Bahwa anak itu perlu diperhatikan, dibina mulai dari bayi harus sudah dididik. Bahasa dan tutur kata beliau memang sederhana tapi sebenarnya sangat mendasar.

Saya sangat terkesah kepada Ibu Tien Soeharto yang senantiasa memberikan pakaian seragam kepada panitia dan janda para pahlawan untuk hadir pada setiap acara ramah tamah atau silaturahmi, yang diadakan setiap tanggal 9 November di Istana Negara. Setiap saya menghadap menjelang hari Pahlawan 10 November seperti biasanya tentunya kami menunggu hadiah pakaian seragam dari Ibu Tien. Dan pakaian seragam tersebut beliau selalu memilih sendiri untuk pria diberi kain jas dan wanitanya diberi kain dan kebaya lengkap dengan selendangnya.

Pemberian dan pilihan kain dari beliau selalu bagus dan serasi warnanya. Saya melihat bahwa pemberian tersebut mereka pakai tidak hanya pada Hari Pahlawan tapi juga pada acara lain. Para menteri juga Wakil Presiden saya amati, pakaian yang mereka kenakan adalah seragam hadiah dari Ibu Tien. Biasanya menteri tersebut tahu kalau saya amati pakaiannya, maka akan mengatakan bahwa memang pakaian yang diberikan melalui Mensos pada Hari Pahlawan adalah pemberian Ibu Tien Soeharto. Karena pemberian kain seragam itu betul-betul bagus, semua senang memakainya.

Pada Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) beliau juga memberikan arahan-arahan bahwa kesetiakawanan di Indonesia harus ditumbuh kembangkan oleh bangsa Indonesia. Beliau selalu mengingatkan sejarahnya pada 1949. Karena kesetiakawanan sosial, rakyat bersatu dengan tentara sehingga bisa mengusir Belanda. Dan setiap 20 Desember diabadikan sebagai Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN).

Memajukan Kaum Wanita
Saya melihat Ibu Tien Soeharto betul-betul memperjuangkan wanita Indonesia. Beliau mendorong kaum wanita agar mempunyai prestasi dan tentunya sesuai harkat dan martabat sebagai Wanita Indonesia. Beliau ingin mewujudkan apa yang telah dirintis oleh R.A. Kartini antara lain dengan adanya Undang-Undang Perkawinan. Perhatian beliau terhadap kaum wanita pedesaan sangat besar. Contohnya kalau ada temu wicara beliau tidak canggung-canggung menanyakan kepada masyarakat secara langsung. Karena keterbatasan waktu dan protokoler sehingga tanya jawab tidak bisa berlangsung lama. Padahal sebetulnya beliau ingin sekali berdialog dari hati ke hati. Beliau ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai rakyat kecil, mengenai wanita Indonesia.

Kesederhanaan bukan hanya pada penampilan. Tapi diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, beliau juga selalu mencicipi makanan- makanan tradisional yang dihidangkan.

Gagasan dan ide Ibu Tien yang sudah ada itu harus kita akui, bahwa itu memang dipersembahkan bagi bangsa Indonesia. Setelah beliau nieninggalkan kita untuk selama-lamanya barulah semua orang menyadari bahwa ide dan gagasan beliau bukan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk kepentingan Presiden dan keluarganya tapi untuk kepentingan rakyat. Dan ternyata hal tersebut diakui. Saya salut bahwa memang Ibu Tien mempunyai ide, gagasan yang luar biasa.

Ibu Tercinta Ibu Tien Soeharto Telah Tiada
Ibu Tien Soeharto telah meninggalkan kita semua pada hari Minggu tanggal 28 April 1996 dinihari di Jakarta dalam usia 73 tahun. Rasanya peristiwa tersebut terulang kembali. Teringat wajah Ibu kandung saya Ibu Siti Monica di tahun 1991 dalam usia 73 tahun dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa. Air mata kembali berlinang tatkala kami mengantarkan ke peristirahatan yang terakhir di pemakaman keluarga Astana Giri Bangun Surakarta.

Kami merasakan kehilangan seorang Ibu yang banyak memberikan jasa bagi Bangsa dan Negaranya. Kami merasa kehilangan seorang Ibu Negara yang patut menjadi teladan bagi seluruh wanita Indonesia


*SMC, dari Buku Rangkaian Melati

 

*** Soeharto Media Center

 
     
     
Copyright © 2003 SoehartoCenter-YCPPI. Design and maintainance by Esero.