Ny. Etty Mar 'ie Muhammad
Ibu Tien Seorang Muslimah yang Baik
Berbicara mengenai Ibu Tien Soeharto dan mengemukakan pandangan-pandangan
dan kesan kita terhadap beliau, sebaiknya kita tidak menghilangkan begitu
saja pengamatan kita atas masa-masa sebelum beliau resmi "menjabat"sebagai
Ibu Negara. Sebelum menjabat Presiden Republik Indonesia, Pak Harto adalah
Pangkostrad. Pada
saat itu kesibukan Ibu Tien sebagian besar adalah kesibukan seorang Ibu
rumah tangga dengan enam orang putra-putri yang masih sangat memerlukan
perhatian dan pendidikan langsung dari Ibu mereka, disamping mendampingi
Pak Harto sebagai istri seorang Panglima yang tentunya mempunyai kesibukan
dan tugas-tugas tertentu.
Barangkali kesibukan dan tugas-tugas tersebut menyebabkan keterbatasan
keberadaan Ibu Tien secara langsung di masyarakat luas, terutama
masyarakat Internasional. Mungkin karena keadaan dan kondisi beliau
seperti saya sebutkan di atas itulah yang menyebabkan beliau lebih banyak
berada di tengah-tengah keluarga dan Keluarga Besar ABRI.
Dan kita semua tahu bahwa dari segi pendidikan formal, artinya di jalur
sekolah, Ibu Tien bukan orang yang mengenyam pendidikan tinggi dengan
sederet gelar. Namun, dengan keterbatasan-keterbatasan seperti saya
kemukakan di atas, justru dari titik atau sudut inilah kekaguman yang
melahirkan penghargaan, tumbuh di hati saya.
Sejak Pak Harto menyandang jabatan sebagai Pejabat Presiden dan kemudian
dilantik sebagai Presiden RI, sedikit demi sedikit namun pasti, disertai
kebesaran hati serta kepercayaan diri yang kuat walaupun disertai pula
dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada, Ibu Tien menyesuaikan diri dan
berusaha dengan tegar melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai istri
Presiden Rl, menjadi pendamping orang nomor satu di negeri kita, negeri
yang pada saat itu baru saja mangalami kemelut dengan pengkhianatan
kembali .segolongan orang (melalui G-30-S PKI) yang menambah kesengsaraan
orang Indonesia.
Pemberontakan PKI yang ditandai dengan terjadinya peristiwa G-30-S/PKI dan
didahului dengan peristiwa-peristiwa baik di daerah maupun di Pusat,
sangat menyudutkan, merugikan bahkan menyengsarakan rakyat Indonesia.
Belum lagi ulah sebagian pemimpin kita yang dengan kekuasaan yang
dimilikinya hanya memikirkan dirinya dan / atau golongannya saja. Keadaan
perekonomian rakyat sungguh sangat memprihatinkan, pembangunan lumpuh.
Citra Indonesia di mata Internasional pun sungguh tidak menyenangkan.
Kondisi negara dan rakyat seperti itu tentu menjadi.beban berat seorang
Kepala Negara, tak terkecuali pendampingnya, karena jika seorang Kepala
Negara mempunyai tugas berat dan beban tanggung jawab yang besar, tentu
beban itu harus dipikul pula oleh pendampingnya, karena keberhasilan
seorang pemimpin banyak ditentukan pula oleh pendamping terdekatnya. Dalam
kondisi pemerintahan dan keadaan negara lndonesia yang tidak menyenangkan
tersebut, Ibu Tien sungguh luar biasa dalam menjalankan tugas dan
kewajibannya sebagai pendamping Kepala Negara atau Ibu Negara disamping
sebagai seorang istri prajurit dan ibu bagi putra-putrinya.
Peran Ibu Tien sebagai istri Pak Harto yang dipercaya rakyat Indonesia
sebagai Presiden tidaklah mudah. Ibu Tien sangat menyadari akan hal ini,
sangat mengerti keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki, dan sangat
memahami keadaan negerinya serta apa-apa yang harus dilakukannya dalam
status dan jabatan sebagai seorang istri Kepala Negara.
Dengan landasan kesadaran, pengertian dan pemahaman tersebut, Ibu Tien
yang memiliki kecerdasan, kepedulian akan nasib sesama dan pandangan yang
jauh ke depan, tak pernah tinggal diam atau berhenti memperluas wawasan di
segala bidang. Perwujudan dari pada hal ini kini sudah banyak kita lihat
bahkan kita nikmati.
Satu hal yang membuat saya sangat terharu adalah upaya keras beliau di
dalam masalah kewanitaan pada khususnya dan juga pada masalah sosial
kemasyarakatan pada umumnya terutama yang menyangkut kepedulian terhadap
nasib sesama, terutama pada masalah kehidupan yang paling mendasar,
misalnya pendidikan, agama, kesehatan, dan budi pekerti.
Rasa terharu juga timbul dalam diri saya atas perhatian dan usaha Ibu Tien
dalam "mewarnai" kehidupan keluarga beliau dengan warna Islam yang kental,
dalam kedudukan sebagai seorang istri, sebagai seorang Ibu dan sebagai
seorang anggota keluarga besar Bangsawan Jawa.
Dalam upaya ini barangkali beliau sendiri tak pernah menghitung- hitung
apakah beliau sudah cukup konsisten dan konsekwen bertindak sebagai
seorang muslimah, namun kita semua khususnya saya pribadi mempunyai
pandangan yang tulus bahwa perilaku beliau adalah perilaku seorang
muslimah yang baik yang terus menerus berupaya agar diri beliau sendiri,
keluarganya, masyarakat Indonesia terutama kaum wanitanya sebagai pendidik
pertama dan utama generasi penerus, mempunyai hari ini yang lebih baik
dari hari kemarin dan memiliki hari esok yang jauh lebih baik dari hari
ini dalam kehidupan yang agamis.
Sebagai muslimah, beliau telah berhasil banyak dan selalu berupaya
melakukan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan oleh agama. Misal,
menjadi istri yang solehah, menjadi pendamping suami yang setia, menjadi
Ibu Negara sekaligus sebagai anggota masyarakat dimana beliau mengabdikan
diri dan menyumbangkan ide, pikiran, waktu, materi, tenaga, dalam perilaku
yang santun, sabar, namun dilandasi dengan kebesaran hati yang mantap dan
kepercayaan diri yang kuat.
Ibu Tien sangat perhatian sekali kepada hal-hal yang kadang-kadang bukan
masalah beliau. Apakah itu masalah istri dari bawahan suaminya, atau
masalah orang lain yang tidak beliau kenal. Beliau siap membantu sebatas
masalah tersebut bukan hal yang sensitif atau mencelakakan pihak lain.
Masih jelas dalam ingatan saya ucapan Ibu Tien ketika Pak Mar'ie dilantik
menjadi Menteri Keuangan oleh Pak Harto di Istana. Pada saat beliau
menyalami Pak Mar'ie, beliau mengatakan, "Selamat Pak Mar'ie!, saya
berharap mudah-mudahan selama Pak Mar 'ie menjadi Menteri Keuangan nanti
nggak ada lagi uang yang dipotong”.
Bagi kami hal itu tak akan pernah kami lupakan. Memang kalimatnya sangat
sederhana, tetapi harapan beliau begitu tinggi. Jadi yang kami ambil
adalah apa yang tersirat dari kalimat itu, bukan yang terucap. Bukankah
makna yang terkandung adalah beliau menghendaki keuangan negara ini
dikelola dengan baik dan benar. Jangan sampai merugikan rakyat Indonesia.
Dengan kata-kata yang mudah dimengerti, mudah dicerna, ucapan Ibu Tien itu
merupakan amanat yang harus dijalankan, dan Pak Mar'ie serta saya tidak
akan pernah melupakannya.
Kemudian pada suatu kesempatan kami pernah bersama-sama dalam satu pesawat
terbang ketika akan ke Surabaya yang esok harinya kembali ke Jakarta naik
Kapal Laut Palindo Jaya buatan putra-putri Indonesia. Sejak dari Jakarta
Pak Moerdiono dan Pak Mar' ie duduk berhadapan dengan Pak Harto dan Ibu
Tien, ada masalah penting yang mereka bicarakan. Lima belas menit
menjelang mendarat di Surabaya, saya dipersilakan duduk berhadapan dengan
Ibu Tien. Dalam waktu yang singkat itu saya sempat terharu kepada
perhatian Ibu Tien sebagai seorang Ibu. Karena pertama- tama yang
ditanyakan adalah "Berapa putranya Jeng?, Berapa usia mereka?, Sekolah di
mana?”
Sebetulnya itu pertanyaan sederhana yang mendasar untuk seorang Ibu kepada
anaknya. Beliau sama sekali tidak menanyakan bagaimana rasanya menjadi
istri Menteri ? Beliau benar-benar bersikap sebagai seorang Ibu, tidak ada
kesan beliau seorang istri Presiden.
Setelah itu beliau menanyakan bagaimana Dharma Wanitanya? Maka saya
laporkan bahwa saya di Departemen Keuangan itu membawahi 32 Sub Unit
Dharma Wanita. Sekarang Bank-Bank Pemerintah yang sampai tahun 1991 berada
di bawah koordinasi BI, kini masuk ke dalam Departemen Keuangan, sehingga
Sub Unit-nya makin bertambah banyak dengan anggota Dharma Wanita yang
dikoordinir menjadi yang terbanyak dari seluruh Unit Dharma Wanita tingkat
pusat.
"Oh banyak ya," kata beliau. Kemudian beliau berpesan agar saya menjaga
kesehatan, karena mengelola Unit yang sedemikian besar di samping harus
mendampingi suami dan menjadi pendidik putra-putri saya. Juga Ibu Tien
berpesan agar memperhatikan para anggota Dharma Wanita di Departemen
Keuangan terutama keluarga golongan I dan II. Pesan beliau sebelum kami
turun dari pesawat adalah: "Hati-hati jaga Pak Mar'ie, tugasnya sangat
berat".
Tentang ide atau gagasan. Bila beliau punya ide ingin segera mewujudkannya,
tentu saja setelah dikonsultasikan ke pelbagai pihak bahwa idenya itu akan
bermanfaat bagi masyarakat banyak. Kita semua sudah melihat wujud dari
pada ide Ibu Tien.
Salah satu contoh adalah misalnya proyek RIA Pembangunan, beliau tidak
memulainya dengan proyek 'wah' sebagai karya organisasi istri Menteri dan
pejabat tinggi negara pada umuinnya, namun pertama kali yang beliau
lakukan adalah mendirikan sebuahTaman Kanak-Kanak di Sentani, Irian Jaya.
Dan sekarang TK itu sudah bertambah besar.
Mengapa beliau tidak membuka salah satu jenjang pendidikan formal tersebut
di Jakarta atau kota-kota lain di Pulau Jawa, tetapi justru di Irian Jaya
yang jauh dari Ibu Kota dan memang sangat memerlukannya. Ini merupakan
suatu bukti pemikiran beliau yang sangat jauh ke depan, dan pemerataan
pendidikan sudah beliau upayakan sedemikian rupa.
Upaya yang menyentuh kepedulian beliau terhadap sesama, antara lain
misalnya membangun Panti Lansia yang nyaman, bersih dan membuat betah
penghuninya, membangun komplek perumahan untuk anak-anak terlantar yang
tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini, dan di situ anak- anak tidak
sekedar ditampung, namun dibimbing dan dibina oleh Ibu Asuh. Setiap rumah
memiliki sedikitnya seorang Ibu Asuh yang merawat anak- anak tersebut (kadang-kadang
di dalam satu rumah ada 1-2 orang bayi) dengan penuh perhatian, kesabaran
dan kasih sayang. Atas permintaan Ibu Tien, rumah-rumah tersebut ditata
dan dikondisikan sebagai mana layaknya suatu rumah tangga dari suatu
keluarga dengan beberapa orang anak.
lbu Tien juga membangun suatu sarana untuk pelatihan para transmigran
spontan sebelum mereka diberangkatkan ke daerah transmigrasi. Jadi banyak
sesungguhnya gagasan beliau yang mendasar di samping Rumah Sakit Anak dan
Bersalin Harapan Kita dan TMII yang ternyata sangat bermanfaat untuk
memupuk dan membina serta memelihara kebudayaan dan ciri khas. bangsa
Indonesia yang terdiri dari sangat banyak suku bangsa ini.
Berita tentang kepergian beliau menghadap Illahi sungguh mengejutkan.
Kebetulan pada sholat Idul Adha tahun ini Pak Mar'ie diminta menjadi
Khatib di Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru. Usai sholat kami minum teh
dan makan ketupat bersama panitia diruangan Yayasan Pesantren Islam yang
mengelola Masjid.
Tiba-tiba kami diberitahu bahwa Ibu Tien wafat. Pada mulanya kami tak
percaya karena kami tidak mendengar beliau sakit, bahkan sehari sebelumnya
Ibu Tien dalam keadaan segar dan ceria masih menerima dan berembuk dengan
PakTarmiziTaher dan Pak Mar'ie yang didampingi Pak Husein Soeropranoto dan
Pak Pontjo Sutowo dari Yayasan Festival Istiqlal membicarakan realisasi
keinginan dan kepedulian Ibu Tien dalam kehidupan dan pendidikan agama
melalui pembangunan Museum Istiqlal dan Baitul Qur'an diarena TMII. Tapi
kami kemudian sadar dan ber-istighfar karena kematian seseorang, apabila
saatnya tiba memang tidak harus didahului oleh sakit atau alasan apa pun
melainkan karena memang saatnya sudah tiba.
Segera kami berpamitan pulang kepada panitia, dan sampai di rumah Pak
Satpam serta para pembantu pun memberitahu bahwa mereka melihat pengumuman
itu di TV. Setelah berganti pakaian kami menuju ke tempat kediaman Pak
Harto di Jalan Cendana. Kami berdo'a sejenak di hadapan Jenazah dengan
perasaan yang tidak dapat kami lukiskan, memohon ke hadirat Illahi agar
IbuTien diterima di sisi-Nya, diampuni segala salah dan dosanya serta
diterima seluruh amal ibadahnya.
Protokol Kepresidenan memberitahu kami agar berkumpul pukul 13.00 di
Pelabuhan Udara Halim Perdana Kusuma untuk berangkat ke Solo memberi
penghormatan terakhir pada pemakaman beliau esok harinya.
Kami senantiasa berdoa, semoga arwah beliau mendapat tempat di sisi Allah
SWT, sesuai dengan amal ibadah yang beliau lakukan di dunia, dan kepada
Pak Harto dengan keluarganya diberi-Nya kesabaran dan ketabahan dalam
menerima cobaan ini. Amien.
*SMC, dari Buku Rangkaian Melati
*** Soeharto Media Center |
|
 |