Soeharto Media Center

Pusat Kajian dan Informasi

 


 

  Beranda
  Berita
  Biografi
  Pidato
  Opini
  Surat
  Museum
  Buku
  Album
  Yayasan
  Ibu Tien
  Kabinet
  Search
  English
  Link
   

 

 

IBU TIEN:

  Ibu Tien
 
   
Ny. Etty Mar 'ie Muhammad

Ibu Tien Seorang Muslimah yang Baik


Berbicara mengenai Ibu Tien Soeharto dan mengemukakan pandangan-pandangan dan kesan kita terhadap beliau, sebaiknya kita tidak menghilangkan begitu saja pengamatan kita atas masa-masa sebelum beliau resmi "menjabat"sebagai Ibu Negara. Sebelum menjabat Presiden Republik Indonesia, Pak Harto adalah Pangkostrad. Pada
saat itu kesibukan Ibu Tien sebagian besar adalah kesibukan seorang Ibu rumah tangga dengan enam orang putra-putri yang masih sangat memerlukan perhatian dan pendidikan langsung dari Ibu mereka, disamping mendampingi Pak Harto sebagai istri seorang Panglima yang tentunya mempunyai kesibukan dan tugas-tugas tertentu.

Barangkali kesibukan dan tugas-tugas tersebut menyebabkan keterbatasan keberadaan Ibu Tien secara langsung di masyarakat luas, terutama masyarakat Internasional. Mungkin karena keadaan dan kondisi beliau seperti saya sebutkan di atas itulah yang menyebabkan beliau lebih banyak berada di tengah-tengah keluarga dan Keluarga Besar ABRI.

Dan kita semua tahu bahwa dari segi pendidikan formal, artinya di jalur sekolah, Ibu Tien bukan orang yang mengenyam pendidikan tinggi dengan sederet gelar. Namun, dengan keterbatasan-keterbatasan seperti saya kemukakan di atas, justru dari titik atau sudut inilah kekaguman yang melahirkan penghargaan, tumbuh di hati saya.

Sejak Pak Harto menyandang jabatan sebagai Pejabat Presiden dan kemudian dilantik sebagai Presiden RI, sedikit demi sedikit namun pasti, disertai kebesaran hati serta kepercayaan diri yang kuat walaupun disertai pula dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada, Ibu Tien menyesuaikan diri dan berusaha dengan tegar melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai istri Presiden Rl, menjadi pendamping orang nomor satu di negeri kita, negeri yang pada saat itu baru saja mangalami kemelut dengan pengkhianatan kembali .segolongan orang (melalui G-30-S PKI) yang menambah kesengsaraan orang Indonesia.

Pemberontakan PKI yang ditandai dengan terjadinya peristiwa G-30-S/PKI dan didahului dengan peristiwa-peristiwa baik di daerah maupun di Pusat, sangat menyudutkan, merugikan bahkan menyengsarakan rakyat Indonesia. Belum lagi ulah sebagian pemimpin kita yang dengan kekuasaan yang dimilikinya hanya memikirkan dirinya dan / atau golongannya saja. Keadaan perekonomian rakyat sungguh sangat memprihatinkan, pembangunan lumpuh. Citra Indonesia di mata Internasional pun sungguh tidak menyenangkan.

Kondisi negara dan rakyat seperti itu tentu menjadi.beban berat seorang Kepala Negara, tak terkecuali pendampingnya, karena jika seorang Kepala Negara mempunyai tugas berat dan beban tanggung jawab yang besar, tentu beban itu harus dipikul pula oleh pendampingnya, karena keberhasilan seorang pemimpin banyak ditentukan pula oleh pendamping terdekatnya. Dalam kondisi pemerintahan dan keadaan negara lndonesia yang tidak menyenangkan tersebut, Ibu Tien sungguh luar biasa dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai pendamping Kepala Negara atau Ibu Negara disamping sebagai seorang istri prajurit dan ibu bagi putra-putrinya.

Peran Ibu Tien sebagai istri Pak Harto yang dipercaya rakyat Indonesia sebagai Presiden tidaklah mudah. Ibu Tien sangat menyadari akan hal ini, sangat mengerti keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki, dan sangat memahami keadaan negerinya serta apa-apa yang harus dilakukannya dalam status dan jabatan sebagai seorang istri Kepala Negara.
Dengan landasan kesadaran, pengertian dan pemahaman tersebut, Ibu Tien yang memiliki kecerdasan, kepedulian akan nasib sesama dan pandangan yang jauh ke depan, tak pernah tinggal diam atau berhenti memperluas wawasan di segala bidang. Perwujudan dari pada hal ini kini sudah banyak kita lihat bahkan kita nikmati.

Satu hal yang membuat saya sangat terharu adalah upaya keras beliau di dalam masalah kewanitaan pada khususnya dan juga pada masalah sosial kemasyarakatan pada umumnya terutama yang menyangkut kepedulian terhadap nasib sesama, terutama pada masalah kehidupan yang paling mendasar, misalnya pendidikan, agama, kesehatan, dan budi pekerti.

Rasa terharu juga timbul dalam diri saya atas perhatian dan usaha Ibu Tien dalam "mewarnai" kehidupan keluarga beliau dengan warna Islam yang kental, dalam kedudukan sebagai seorang istri, sebagai seorang Ibu dan sebagai seorang anggota keluarga besar Bangsawan Jawa.

Dalam upaya ini barangkali beliau sendiri tak pernah menghitung- hitung apakah beliau sudah cukup konsisten dan konsekwen bertindak sebagai seorang muslimah, namun kita semua khususnya saya pribadi mempunyai pandangan yang tulus bahwa perilaku beliau adalah perilaku seorang muslimah yang baik yang terus menerus berupaya agar diri beliau sendiri, keluarganya, masyarakat Indonesia terutama kaum wanitanya sebagai pendidik pertama dan utama generasi penerus, mempunyai hari ini yang lebih baik dari hari kemarin dan memiliki hari esok yang jauh lebih baik dari hari ini dalam kehidupan yang agamis.

Sebagai muslimah, beliau telah berhasil banyak dan selalu berupaya melakukan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan oleh agama. Misal, menjadi istri yang solehah, menjadi pendamping suami yang setia, menjadi Ibu Negara sekaligus sebagai anggota masyarakat dimana beliau mengabdikan diri dan menyumbangkan ide, pikiran, waktu, materi, tenaga, dalam perilaku yang santun, sabar, namun dilandasi dengan kebesaran hati yang mantap dan kepercayaan diri yang kuat.


Ibu Tien sangat perhatian sekali kepada hal-hal yang kadang-kadang bukan masalah beliau. Apakah itu masalah istri dari bawahan suaminya, atau masalah orang lain yang tidak beliau kenal. Beliau siap membantu sebatas masalah tersebut bukan hal yang sensitif atau mencelakakan pihak lain. Masih jelas dalam ingatan saya ucapan Ibu Tien ketika Pak Mar'ie dilantik menjadi Menteri Keuangan oleh Pak Harto di Istana. Pada saat beliau menyalami Pak Mar'ie, beliau mengatakan, "Selamat Pak Mar'ie!, saya berharap mudah-mudahan selama Pak Mar 'ie menjadi Menteri Keuangan nanti nggak ada lagi uang yang dipotong”.

Bagi kami hal itu tak akan pernah kami lupakan. Memang kalimatnya sangat sederhana, tetapi harapan beliau begitu tinggi. Jadi yang kami ambil adalah apa yang tersirat dari kalimat itu, bukan yang terucap. Bukankah makna yang terkandung adalah beliau menghendaki keuangan negara ini dikelola dengan baik dan benar. Jangan sampai merugikan rakyat Indonesia. Dengan kata-kata yang mudah dimengerti, mudah dicerna, ucapan Ibu Tien itu merupakan amanat yang harus dijalankan, dan Pak Mar'ie serta saya tidak akan pernah melupakannya.

Kemudian pada suatu kesempatan kami pernah bersama-sama dalam satu pesawat terbang ketika akan ke Surabaya yang esok harinya kembali ke Jakarta naik Kapal Laut Palindo Jaya buatan putra-putri Indonesia. Sejak dari Jakarta Pak Moerdiono dan Pak Mar' ie duduk berhadapan dengan Pak Harto dan Ibu Tien, ada masalah penting yang mereka bicarakan. Lima belas menit menjelang mendarat di Surabaya, saya dipersilakan duduk berhadapan dengan Ibu Tien. Dalam waktu yang singkat itu saya sempat terharu kepada perhatian Ibu Tien sebagai seorang Ibu. Karena pertama- tama yang ditanyakan adalah "Berapa putranya Jeng?, Berapa usia mereka?, Sekolah di mana?”

Sebetulnya itu pertanyaan sederhana yang mendasar untuk seorang Ibu kepada anaknya. Beliau sama sekali tidak menanyakan bagaimana rasanya menjadi istri Menteri ? Beliau benar-benar bersikap sebagai seorang Ibu, tidak ada kesan beliau seorang istri Presiden.
Setelah itu beliau menanyakan bagaimana Dharma Wanitanya? Maka saya laporkan bahwa saya di Departemen Keuangan itu membawahi 32 Sub Unit Dharma Wanita. Sekarang Bank-Bank Pemerintah yang sampai tahun 1991 berada di bawah koordinasi BI, kini masuk ke dalam Departemen Keuangan, sehingga Sub Unit-nya makin bertambah banyak dengan anggota Dharma Wanita yang dikoordinir menjadi yang terbanyak dari seluruh Unit Dharma Wanita tingkat pusat.

"Oh banyak ya," kata beliau. Kemudian beliau berpesan agar saya menjaga kesehatan, karena mengelola Unit yang sedemikian besar di samping harus mendampingi suami dan menjadi pendidik putra-putri saya. Juga Ibu Tien berpesan agar memperhatikan para anggota Dharma Wanita di Departemen Keuangan terutama keluarga golongan I dan II. Pesan beliau sebelum kami turun dari pesawat adalah: "Hati-hati jaga Pak Mar'ie, tugasnya sangat berat".

Tentang ide atau gagasan. Bila beliau punya ide ingin segera mewujudkannya, tentu saja setelah dikonsultasikan ke pelbagai pihak bahwa idenya itu akan bermanfaat bagi masyarakat banyak. Kita semua sudah melihat wujud dari pada ide Ibu Tien.

Salah satu contoh adalah misalnya proyek RIA Pembangunan, beliau tidak memulainya dengan proyek 'wah' sebagai karya organisasi istri Menteri dan pejabat tinggi negara pada umuinnya, namun pertama kali yang beliau lakukan adalah mendirikan sebuahTaman Kanak-Kanak di Sentani, Irian Jaya. Dan sekarang TK itu sudah bertambah besar.
Mengapa beliau tidak membuka salah satu jenjang pendidikan formal tersebut di Jakarta atau kota-kota lain di Pulau Jawa, tetapi justru di Irian Jaya yang jauh dari Ibu Kota dan memang sangat memerlukannya. Ini merupakan suatu bukti pemikiran beliau yang sangat jauh ke depan, dan pemerataan pendidikan sudah beliau upayakan sedemikian rupa.

Upaya yang menyentuh kepedulian beliau terhadap sesama, antara lain misalnya membangun Panti Lansia yang nyaman, bersih dan membuat betah penghuninya, membangun komplek perumahan untuk anak-anak terlantar yang tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini, dan di situ anak- anak tidak sekedar ditampung, namun dibimbing dan dibina oleh Ibu Asuh. Setiap rumah memiliki sedikitnya seorang Ibu Asuh yang merawat anak- anak tersebut (kadang-kadang di dalam satu rumah ada 1-2 orang bayi) dengan penuh perhatian, kesabaran dan kasih sayang. Atas permintaan Ibu Tien, rumah-rumah tersebut ditata dan dikondisikan sebagai mana layaknya suatu rumah tangga dari suatu keluarga dengan beberapa orang anak.

lbu Tien juga membangun suatu sarana untuk pelatihan para transmigran spontan sebelum mereka diberangkatkan ke daerah transmigrasi. Jadi banyak sesungguhnya gagasan beliau yang mendasar di samping Rumah Sakit Anak dan Bersalin Harapan Kita dan TMII yang ternyata sangat bermanfaat untuk memupuk dan membina serta memelihara kebudayaan dan ciri khas. bangsa Indonesia yang terdiri dari sangat banyak suku bangsa ini.

Berita tentang kepergian beliau menghadap Illahi sungguh mengejutkan. Kebetulan pada sholat Idul Adha tahun ini Pak Mar'ie diminta menjadi Khatib di Masjid Agung Al-Azhar Kebayoran Baru. Usai sholat kami minum teh dan makan ketupat bersama panitia diruangan Yayasan Pesantren Islam yang mengelola Masjid.

Tiba-tiba kami diberitahu bahwa Ibu Tien wafat. Pada mulanya kami tak percaya karena kami tidak mendengar beliau sakit, bahkan sehari sebelumnya Ibu Tien dalam keadaan segar dan ceria masih menerima dan berembuk dengan PakTarmiziTaher dan Pak Mar'ie yang didampingi Pak Husein Soeropranoto dan Pak Pontjo Sutowo dari Yayasan Festival Istiqlal membicarakan realisasi keinginan dan kepedulian Ibu Tien dalam kehidupan dan pendidikan agama melalui pembangunan Museum Istiqlal dan Baitul Qur'an diarena TMII. Tapi kami kemudian sadar dan ber-istighfar karena kematian seseorang, apabila saatnya tiba memang tidak harus didahului oleh sakit atau alasan apa pun melainkan karena memang saatnya sudah tiba.

Segera kami berpamitan pulang kepada panitia, dan sampai di rumah Pak Satpam serta para pembantu pun memberitahu bahwa mereka melihat pengumuman itu di TV. Setelah berganti pakaian kami menuju ke tempat kediaman Pak Harto di Jalan Cendana. Kami berdo'a sejenak di hadapan Jenazah dengan perasaan yang tidak dapat kami lukiskan, memohon ke hadirat Illahi agar IbuTien diterima di sisi-Nya, diampuni segala salah dan dosanya serta diterima seluruh amal ibadahnya.

Protokol Kepresidenan memberitahu kami agar berkumpul pukul 13.00 di Pelabuhan Udara Halim Perdana Kusuma untuk berangkat ke Solo memberi penghormatan terakhir pada pemakaman beliau esok harinya.

Kami senantiasa berdoa, semoga arwah beliau mendapat tempat di sisi Allah SWT, sesuai dengan amal ibadah yang beliau lakukan di dunia, dan kepada Pak Harto dengan keluarganya diberi-Nya kesabaran dan ketabahan dalam menerima cobaan ini. Amien.


*SMC, dari Buku Rangkaian Melati

 

*** Soeharto Media Center

 
     
     
Copyright © 2003 SoehartoCenter-YCPPI. Design and maintainance by Esero.