Ny. Bianti Djiwandono
Ibu Tien Konsisten dalam Bersikap
Ibu Tien adalah Ibu Negara yang memiliki visi jauh ke depan. Berkemauan
keras, sangat konsisten dan konsekuen dalam bersikap, serta penuh percaya
diri. Namun di balik semua itu, beliau sangat lembut dan keibuan.
Pertemuan saya yang pertama kali dengan Ibu Tien adalah pada 1968, ketika
Bapak saya menjadi Menteri Perdagangan pada Kabinet Pembangunan I. Suatu
ketika, Pak Harto dan Ibu Tien mengajak semua Menteri beserta keluarga
masing-masing berekreasi di Pulau Seribu. Saya yang waktu itu baru berusia
20 tahun, seusia dengan Mbak Tutut, masih kuliah di Amerika Serikat, dan
kebetulan saya sedang pulang ke Tanah Air.
Sebagai anak, saya diperkenalkan oleh orang tua saya kepada Presiden
Soeharto dan Ibu Tien. Tetapi waktu itu saya tidak sempat berbicara dengan
beliau. Sebagai seorang anak, saya menempatkan diri dan mentaati tata
krama atau unggah-ungguh yang berlaku, bahwa anak muda bergaul dengan anak
muda pula. Karena itu kedua orang tua sayalah yang duduk dan
bercakap-cakap dengan Pak Harto dan Ibu Tien.
Kemudian pada tahun 1983, Prabowo, adik saya menikah dengan Titiek, putri
Pak Harto dan Ibu Tien. Dengan demikian sebagai kakak, hubungan pertalian
keluarga cukup dekat dengan Ibu Tien, namun secara hirarki jaraknya jauh,
sebab yang sama kedudukannya dengan beliau adalah ibu saya sebagai besan.
Pada 1988, ketika suami saya menjadi Menteri Muda Perdagangan, saya lebih
sering bertemu dengan beliau, terutama dalam kegiatan RIA Pembangunan.
Hubungan saya dengan Ibu Tien dalam organisasi itu adalah hubungan
fungsional, beliau sebagai Ketua Umum dan saya sebagai anggota. Meski saya
seusia dengan putrinya, namun beliau luwes dalam pergaulan, tidak canggung
dengan yang masih muda-muda.
Meski suami sebagai Pembantu Presiden, namun dalam, acara-acara keluarga
saya selalu menempatkan diri sebagai anak. Saya harus tahu diri bahwa
hubungan dalam keluarga berbeda dengan hubungan dalam organisasi. Saya dan
suami tidak berani mendekat kecuali dipanggil Pak Harto atau Ibu Tien,
bila ada masalah penting yang akan dibicarakan saat itu.
Saya sangat berterima kasih kepada Presiden Soeharto dan Ibu Tien ketika
menghadiri Perayaan Natal Nasional '95. Ketika itu suami saya yang menjadi
Ketua Pelaksananya, tentu saja kami sangat sibuk dalam mempersiapkan acara
besar itu. Berkat Puji Tuhan acara berjalan dengan lancar dan memuaskan.
Tentang gagasan Ibu Tien, ada dua hal yang menurut saya sangat istimewa.
Salah satunya adalah mengenai TMII, visi beliau ketika mencetuskan ide
membangun TMII sudah jauh ke depan. Beliau ingin memberikan sesuatu yang
bermakna bagi seluruh rakyat Indonesia. Suatu tempat rekreasi keluarga
yang komplet, nyaman dan dapat memenuhi kebutuhan seluruh lapisan
masyarakat. Wisatawan yang datang ke sana sekarang ini akan lebih merasa
berkesan, karena selain berekreasi, wawasan pun akan bertambah luas. TMII
telah disemarakkan oleh kehadiran berbagai macam museum, pusat riset, dan
monumen.
Taman Buah Mekar Sari adalah suatu bukti bahwa Ibu Tien sangat perhatian
terhadap pelestarian buah-buahan Indonesia. Mudah-mudahan kehadiran Taman
Buah ini dapat mengetuk hati orang lain sehingga tertarik pula untuk
mengikuti jejak Ibu Tien mengembangkan kekayaan alam Indonesia yang
diberikan oleh Tuhan.
Taman Buah Mekar Sari bisa menjadi model bagi yang lain-lain. Semoga para
pengusaha tidak hanya tertarik menanamkan modal mereka untuk membangun
gedung-gedung bertingkat dan real estate, tetapi mau pula terjun di bidang
agrobisnis. Kalau saja banyak pengusaha yang mau mengembangkan bidang itu,
maka Indonesia tak perlu impor buah-buahan, karena buah yang ada dapat
memenuhi konsumsi masyarakat luas, dan harganya pun terjangkau.
Memang ag:robisnis tidak seperti bisnis lain yang cepat kembali modal.
Bidang ini belum tampak hasilnya dalam jangka waktu 3 -5 tahun, bahkan
barangkali baru bisa dinikmati dalam waktu sepuluh tahun ke depan.
Museum Puma Bhakti Pertiwi dibangun untuk memberikan kesempatan kepada
masyarakat supaya dapat melihat barang-barang kerajinan seni dari seluruh
Indonesia dan benda-benda berharga dari mancanegara. Dengan menyaksikan
benda-benda khas dari berbagai belahan dunia dan buah hasil karya seni
bangsa sendiri, maka akan memperluas cakrawala masyarakat luas.
Semua karya besar beliau dipersembahkan kepada seluruh Bangsa Indonesia,
kini semua rakyat bisa menikmati dan mensyukurinya.
Dengan perginya Ibu Tien Soeharto, saya kehilangan seorang ibu yang begitu
konsisten dalam membela kedudukan dan hak wanita dalam keluarga. Beliau
telah begitu gigih mendorong keluarnya UU No 1 Tahun 1974, yang lebih
dikenal sebagai Undang-Undang Perkawinan. Beliau juga memperjuangkan
berlakunya Peraturan Pemerintah No.10 Tahun 1983. Ini adalah perjuangan
beliau membela hak-hak wanita khususnya melindungi para istri Pegawai
Negeri dan keluarga Pegawai Negeri. Itulah warisan beliau yang tak
ternilai dan abadi. Warisan ini harus dipelihara, ditegakkan secara
konsisten dan dapat menjadi panutan.
Terakhir kali saya bertemu beliau ketika Titiek berulang tahun, dua minggu
sebelum beliau wafat. Pada saat itu beliau masih tampak begitu sehat dan
gembira. Beliau memang selalu tampil segar dan banyak senyum, meski
barangkali dalam keadaan lelah. Tentang penampilan ini, beliau memang
selalu memberi pesan kepada siapa saja, bahwa secapek-capeknya atau
sesibuk-sibuknya kami supaya selalu tampil segar dan gembira. Beliau telah
memberi contoh, sehingga mendorong kami melakukan hal yang sama. Ibu Tien
kini telah tiada, namun jasa dan warisan yang beliau tinggalkan akan
membawa nama harum beliau sepanjang masa.
*SMC, dari Buku Rangkaian Melati
*** Soeharto Media Center |
|
 |