Soeharto Media Center

Pusat Kajian dan Informasi

 


 

  Beranda
  Berita
  Biografi
  Pidato
  Opini
  Surat
  Museum
  Buku
  Album
  Yayasan
  Ibu Tien
  Kabinet
  Search
  English
  Link
   

 

 

IBU TIEN:

  Ibu Tien
 
   
Ny. Dr. dr. Atie Djojonegoro

Tujuh Keteladanan Ibu Tien


Sejarah telah mengukir dengan tinta emasnya bahwa di bukit Astana Giribangun, Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, sekitar 30 kilometer arah timur kota Solo, telah beristirahat selama-lamanya seorang puteri terbaik bangsa sebagai Ibu Negara, wanita pejuang dan.pejuang wanita yang selalu memajukan derajat dan
karier kaum wanita. Hajjah Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah Soeharto yang dilahirkan dari keluarga kraton pada tanggal 23 Agustus 1923. Dalam perjalanan hidupnya sebagai pribadi dan sebagai Ibu Negara, menurut kesan dan pandangan saya, beliau pada hakikatnya merupakan pribadi yang ditandai dengan tujuh keteladanan.

Pertama, almarhumah Ibu Negara adalah suri tauladan bagi bangsa Indonesia. Keteladanan itu dicerminkan oleh pribadi beliau dengan perpaduan yang harmonis antara kesederhanaan dan keanggunan. Kesederhanaan beliau tercermin dari kehidupan pribadi beliau yang penuh dengan keseimbangan. Kesederhanaan inilah yang melahirkan pancaran keanggunan sehingga patut dijadikan suri tauladan bagi kita semua.

Sebagai Ibu Negara, beliau ternyata mempunyai perpaduan yang harmonis antara visi yang jauh ke depan dan penunaian tugas-tugas rutin dalam berbagai urusan kenegaraan. Berbagai karya monumental beliau dapat dirasakan manfaatnya setelah karya itu lahir dalam rentang waktu yang relatif lama. Saat ini banyak negara di dunia hendak meniru visi beliau dalam pembangunan Taman Mini Indonesia Indah. Namun di sisi lain, beliau ternyata tidak pernah mengabaikan perhatian beliau menunaikan tugas sehari-hari dalam berbagai urusan kenegaraan. Kemampuan untuk memelihara perpaduan yang harmonis antara visi ke depan dan penerjemahannya dalam aktifitas sehari-hari patut menjadi contoh bagi kita semua.

Kedua, almarhumah telah melahirkan berbagai karya monumental yang akan dikenang sepanjang zaman. Karya-karya ini akan berbicara dari generasi ke generasi bahwa bangsa Indonesia pernah memiliki seorang Ibu Negara yang berjuang bukan hanya untuk kepentingan zamannya. Taman Mini Indonesia Indah (TMII) adalah wujud nyata dari gagasan dan prakarsa beliau yang monumental. Pada tahun 1970, ketika TMII mulai dibangun ternyata mendapat berbagai tantangan. Protes berdatangan dari berbagai kalangan termasuk mahasiswa, karena dianggap menghamburkan uang negara. Tetapi sekarang TMII ternyata telah menjadi kebanggaan kita semua. Bahkan prakarsa ini telah dicontoh oleh sejumlah negara.

TMII bukan hanya bermakna pariwisata saja, namun mempunyai arti yang mendalam baik dari segi budaya maupun dari segi pendidikan. Dari segi budaya, TMII merupakan wahana pembinaan nilai-nilai budaya nasional, membina kecintaan terhadap budaya daerah sebagai bagian dari pembinaan wawasan kebangsaan. Keanekaragaman budaya dan adat istiadat yang tersebar di seluruh penjuru tanah air yang dapat ditunjukkan di TMII, mencerminkan betapa kekayaan budaya yang kita miliki. Pelangi itu indah karena adanya perbedaan warna. TMII mengangkat perbedaan-perbedaan itu dalam semangat kebersamaan untuk kemajuan bangsa.

Dari segi pendidikan, TMII merupakan wahana penanaman rasa cinta tanah air, rasa kesatuan dan persatuan bangsa. Keanekaragaman f1ora dan fauna yang ada di TMII memberi informasi tentang kekayaan sumber daya alam kita. Melalui kehadiran TMII, generasi muda dan seluruh masyarakat Indonesia dapat memahami bahwa sesungguhnya Indonesia adalah negara yang besar. Secara geografis, Indonesia terdiri dari lebih 17.000 buah pulau dengan keanekaragaman hayati yang tidak terhitung.

Ketiga, beliau telah memberi perhatian dan dorongan yang amat besar tentang perlunya museum bagi pendidikan generasi muda khususnya maupun bagi pendidikan masyarakat pada umumnya. Beliau dalam hidupnya secara aktif membina dan mensponsori pembangunan lebih dari 15 museum di tanah air kita. Beliau memandang museum sebagai wahana penelitian, pengembangan dan sumber informasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, humaniora dan seni. Pengamanan, penyimpanan, perawatan dan pengamanan benda-benda sejarah yang merupakan warisan budaya dan warisan alam telah menjadi perhatian beliau untuk mempertebal rasa kebangsaan dan semangat cinta tanah air.

Keempat, almarhumah Ibu Negara mempunyai perhatian yang amat besar tentang pengembangan hortikultura. Bahkan pada hari terakhir dari kehidupan beliau, ia menyempatkan diri berkunjung ke Taman Buah Mekar Sari Cileungsi. Taman ini mulai dibangun sejak tahun 1993, dan diresmikan pada bulan Nopember 1995. Taman seluas 180 Ha yang dibangun oleh Yayasan Puma Bhakti Pertiwi ini terdapat sekitar 85 persen tanaman buah- buahan, 10 persen tanaman hias, dan lima persen tanaman bumbu dapur. Buah-buahan di Taman ini banyak ditanam dalam pot agar dapat dicontoh oleh masyarakat.

Taman ini dapat berperan sebagai wahana pendidikan, penelitian dan berbagai kepentingan ilmiah lainnya. Bahkan beliau mengharapkan agar Taman ini menjadi pusat penelitian untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan Iptek. Beliau juga menyarankan agar di Indonesia ada pendidikan khusus tentang holtikultura. Taman ini sungguh merupakan laboratorium hayati tempat belajar dan sekaligus untuk meningkatkan rasa kecintaan masyarakat terhadap kekayaan alam Indonesia.
.
Kelima, perhatian beliau yang amat besar tentang anak-anak. Perhatian beliau pada
kehidupan anak-anak dan pendidikan mereka amat besar. Dari illustrasi dialog beliau pada Hari Anak Nasional1995 yang lalu misalnya, kita menyadari betapa beliau mempunyai pandangan yang amat mendasar tentang peran anak-anak sebagai generasi masa depan bangsa. Perhatian beliau terhadap anak-anak juga menyangkut bagi mereka yang menyandang cacat, pada pendidikan Luar Biasa (SLB) .Bahkan beliau telah menyumbangkan perhatian yang sangat khusus terhadap pengadaan peralatan dan media pendidikan bagi mereka, seperti kamus bahasa isyarat, komputer bagi tuna netra, dan seterusnya.

Selain itu, beliau menaruh pula perhatian yang cukup besar terhadap pembentukan Pusat Pengkajian dan Pengembangan Penyantunan Kebutaan. Beliau menginginkan agar. terdapat gerakan sosial untuk menggalang kesediaan masyarakat menjadi calon donor mata bagi mereka yang memerlukan.

Keenam, beliau adalah pendidik masyarakat yang handal. Terbukti dengan gagasan-gagasan beliau tentang berbagai kegiatan dalam rangka menumbuhkan rasa kesetiakawanan sosial dan kemanusiaan. Beliau hingga akhir hayatnya tercatat mengetuai belasan lembaga sosial dan kebudayaan. Sejumlah prakarsa kemanusiaan beliau akan dikenang sepanjang zaman.

Hal yang sama juga dalam hal pendidikan wanita. Pandangan beliau tentang wanita Indonesia amat mendasar, yaitu perlunya kaum wanita Indonesia maju di berbagai bidang, namun hendaknya mereka tetap berpegang pada jati diri bangsa. Agaknya tidak berlebihan apabila Menristek B.J. Habibie menilai bahwa beliau sebagai Kartini sejati di zaman modern, karena beliau senantiasa berjuang untuk meningkatkan derajat kaum wanita. Pada zaman penjajahan Jepang, beliau menjadi anggota Fujinkai, satu- satunya organisasi wanita yang diperbolehkan oleh Jepang. Dalam organisasi inilah awal dari kesadaran beliau untuk menghilangkan segala bentuk diskriminasi dan perlakuan yang tidak adil pada diri kaum wanita Indonesla.

Ketujuh, bagian akhir dari kesan ini, saya sampaikan kesan yang bersifat pribadi, yang menggambarkan sisi lain dari pribadi almarhumah. Pada tahun 1993, waktu itu pertama kali saya mengikuti acara pramuka tingkat nasional, yang dihadiri pula oleh Presiden dan Almarhumah. Pada acara yang khidmat itu saya telah “diselamatkan" oleh jawilan tangan Ibu Tien. Begini ceritanya;

Ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya mulai berkumandang, saya tidak segera memberikan penghormatan seperti lazimnya pengikut upacara yang mengenakan topi. Sebagai pemula"saya memang masih belum terbiasa. Almarhumah rupanya cukup tanggap dan segera menjawil saya, sehingga saya sadar dan langsung mengambil sikap hormat dengan mengangkat tangan. Jawilan tersebutlah yang telah “menyelamatkan" saya dari keadaan yang membuat malu. ..

Sebelum acara dimulai pun Ibu sudah mengingatkan bahwa dasi Pramuka saya yang salah dikenakan: “Jeng, yang merah di sebelah kanan”. ujar beliau dengan tersenyum ramah. Dengan ilustrasi tersebut, betapa beliau sangat teliti dan memperhatikan betul kerapihan. Satu hal yang amatmengesankan bagi saya ialah cara beliau dalam menegur, halus tapi menyentuh. Sejak saat itu, dari setiap perjumpaan dengan beliau saya telah banyak belajar bagaimana membuat orang sekitar kita merasa nyaman.

Demikianlah pandangan dan kesan saya tentang perjalanan hidup beliau yang diwarnai dengan perjuangan yang patut dijadikan suri tauladan bagi kita semua. Beliau telah kembali ke pangkuan Allah SWT dalam usia 73 tahun. Beliau mewariskan kepada kita semangat untuk kemajuan bangsa yang merupakan tanggung jawab bagi kita semua untuk meneruskannya. Selamat jalan Ibu Negara yang kami cintai.


*SMC, dari Buku Rangkaian Melati

 

*** Soeharto Media Center

 
     
     
Copyright © 2003 SoehartoCenter-YCPPI. Design and maintainance by Esero.