Dari Zaman KNIL sampai ke Zaman PETA
OTOBIOGRAFI 003: Tak dinyana, kesempatan datang untuk melamar masuk
KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger - Tentara Kerajaan Hindia
Belanda). Pada mulanya sama sekali tidak saya kira bahwa lamaran yang saya
ajukan akan merupakan anak kunci yang membuka pintu lapangan hidup yang
menyenangkan.
Terasa agak lama sampai saya mendapat panggilan atas
lamaran saya itu. Saya ikut ujian dan ternyata lulus dan diterima.
Waktu itu ada dua macam kesempatan masuk KNIL, yakni
bisa masuk ke Dinas Panjang yang disebut Langverband, atau ikatan
Dinas Pendek, Kortverband. Dinas pendek yang latihannya diadakan di
Gombong, tak ubahnya dengan milisi saja, tiga tahun lamanya, tetapi bisa
mendapat pensiun. Yang masuk dinas ini umumnya lulusan HIS (Holands
Inlandse School - SD di zaman Belanda) ke atas. Yang diterima di
Langverband ialah mereka yang dari kelas tiga sekolah dasar, malahan
ada juga yang sama sekali belum sekolah. Latihannya diadakan di Cimahi,
Bandung.
Yang mendapat latihan di Gombong bisa mendapat
kesempatan untuk terus mengikuti Kader School dan menjadi kopral.
Lulusan Langverband bisa masuk di batalyon, tetapi mungkin setelah
sepuluh tahun baru bisa menjadi kopral. Setelah menjadi kopral bisa
praktek di batalyon. Dan setelah menjadi kopral selama 5 tahun, barulah
bisa ujian lagi untuk menjadi sersan.
Saya masuk Kortverband di Gombong. Kami berlatih
dari pagi sampai malam. Pengalaman ini berbeda sekali dengan sewaktu
sekolah tempo hari ataupun sewaktu menjadi pembantu klerek bank. Tetapi
saya menemukan kesenangan dan mulai tertarik untuk benar-benar bisa hidup
dari pekerjaan ini.
Saya lulus sebagai yang terbaik. Lalu saya disuruh
berpraktek di Batalyon XIII di Tampel, dekat Malang, sebagai wakil
komandan regu. Saya tidak pernah praktek di Batalyon Surabaya seperti
dikira orang. Yang saya alami adalah praktek jaga malam di pantai
pertahanan Gresik, kurang lebih dua minggu lamanya. Dan sewaktu itulah
saya mulai terkena penyakit malaria.
Penyakit saya ini kambuh lagi sewaktu di Malang,
sampai-sampai saya pingsan lalu digotong, dimasukkan rumah sakit kurang
lebib dua minggu lamanya. Setelah keluar dari rumah sakit, saya ujian lagi,
dan ditetapkan untuk masuk Sekolah Kader di Gombong, untuk mendapatkan
pangkat sersan.
Pada waktu di Malang itulah sepupu saya Sulardi, yang
lebib suka saya sebut adik saya, putra Pak Prawirowihardjo, menuntut
pelajaran di sekolah pertanian di kota yang sama. Maka apabila ada waktu
senggang, saya pergunakan untuk menengok Dik Sulardi dan pergi
bersama-sama dengannya ke pelbagai tempat tamasya atau menonton,
satu-satunya biburan selama saya terikat oleh kedinasan saya waktu itu.
Saya masih ingat, sewaktu saya berdinas pada KNIL itu,
sababat saya yang terdekat adalah Amat Sudono. Kami tidur di tempat tidur
susun. Mas Sudono tidur di atas, saya di bawah. Dia mengalah, memudahkan
saya untuk sembahyang.
Kawan lainnya adalah Kosasih, yang kemudian pernah jadi
polisi, lalu pensiun dan kabarnya sekarang tinggal di Bandung. Kawan
lainnya lagi adalah Suwoto yang sudah meninggal.
Teman saya dari satu kelas ialah Yayi Suwondo, yang
tinggal di Kelapa Gading. la pensiunan Angkatan Udara. Saya beri ia rumab
di Perumahan "Bermis". Belum lama ini ia meninggal.
Orang Belanda yang masih saya ingat ialah komandan
kompi saya, Kapten Dryber, yang sekarang, katanya masih ada di negerinya.
Lalu saya masih ingat komandan peleton saya, Letnan Hyneman.
Kapten Dryber pernah menulis surat kepada saya,
menanyakan, apakab benar Soeharto yang bersama dengannya dalam kompinya
yang menjadi Presiden Indonesia sekarang. Saya menyuruh menjawabnya dengan
menyatakan "ya". Tetapi entah, apa surat balasan dari saya itu sampai
kepadanya atau tidak, saya tidak tahu.
Lalu masib ada komandan regu, Jansen, yang masih saya
ingat. Tetapi saya tidak tahu apakah ia masih bidup atau sudah meninggal.
Waktu di Sekolah Kader itulah pecah perang. Sekiranya
peristiwa itu tidak terjadi, saya akan dikembalikan kepada kesatuan.
Tetapi karena pecah Perang Dunia ke-2, selesai sekolah di Gombong dan
meraih pangkat sersan, saya terus dikirim ke Bandung, dijadikan cadangan
pada Markas Besar Angkatan Darat. Saya ditempatkan di Cisarua. Namun, cuma
satu minggu saya berada di situ. Perubahan pun terjadi.
Pada 8 Maret 1942 Belanda menyerah. Jepang berkuasa di
tanah air kita. Saya masih menunggu apa yang akan terjadi dengan diri saya.
Saya herpikir, tentu saya akan ditawan. Dalam keadaan menunggu nasib
seperti itu saya main kartu cemeh dengan kartu Londo.
Waktu mulai main cemeh itu saya hanya punya uang
satu gulden. Tetapi dalam permainan kartu itu uang saya bertamhah
menjadi 50 gulden. Dan uang itulah yang saya pergunakan hersama
Amat Sudono pulang ke kampung.
Kami tidak mau ditawan. Kami pergi ke Cimahi dulu,
membeli pakaian, lalu terus langsung ke Yogya naik kereta api.
Sampai di stasiun Tugu, kami mendengar pengumuman,
hahwa semua bekas tentara harus masuk kantor, untuk melaporkan diri di
Jetis.
Kami tidak keluar dari stasiun. Kami kukuh pada pikiran
semula, tidak mau diringkus oleh Jepang. Lalu kami mencari akal, naik
kereta yang menuju Sleman, ke tempat Amat Sudono.
Di rumah Mas Dono saya menginap satu malam. Esok
harinya saya naik bis ke Wonogiri, lalu terus ke Wuryantoro.
Sesampai di Wuryantoro saya diserang penyakit malaria
lagi. Enam bulan saya mesti berharing dengan merasakan panas dingin tidak
keruan itu. Saya ingat, selama di Gombong saya tidak pernah sakit lagi.
Begitu kembali ke Wuryantoro penyakit saya itu kumat.
Sementara itu Jepang sudah membentuk lembaga-lembaga
keamanan di kampung-kampung, di kecamatan-kecamatan, di kota- kota besar
dan di karesidenan --karesidenan, seperti Keibodan, Seinendan.
Wanita-wanita juga dikerahkan dengan dibentuknya Fujin Kai.
Pengangkatan pamongpraja juga sudah tidak lagi menurut kebiasaan
lama. Yang jadi bupati, kenco, juga tidak usah lagi menurut
keturunan seperti biasanya dilakukan di zaman Belanda.
Dibentuk pula romusha yang tidak berapa lama
kemudian menjadi badan pengerahan tenaga secara paksa. Bukan main
gencarnya pengerahan romusha itu di desa-desa. Tadinya
tenaga-tenaga itu dipakai untuk membangun dobuku (dam irigasi) di
pelbagai tempat di Jawa, akhirnya mereka dikirim ke luar sampai ke Birma,
membuat jalan dan lain-lain sebagainya untuk kebutuhan tentara Jepang.
Bendera Merah-Putih yang semula diizinkan berkibar,
segera dilarang oleh Jepang untuk dikibarkan, diganti dengan hendera
Jepang, dengan hendera Hinomaru. Begitu juga lagu Indonesia Raya
digantinya dengan Kimigayo.
Pada waktu itu, sandang pangan tambah susah. Bekicot
dianjurkan untuk dimakan. Benang kain kian hertamhah sulit didapat hingga
akhirnya yang dipakai ialah sarung karet mentah disablon yang tidak hilang
baunya.
Di tengah suasana seperti itu pelan-pelan saya sembuh
kembali. Hidup sebagai petani di kampung sudah tidak mungkin. Cuma bakal
jadi beban mereka yang sudah berdesakan dan tambah kekurangan. Terlalu
sempit tanah garapan di sana. Dan kegersangan sesudah zaman perang tambah
mengerikan. Maka saya pikir, saya mesti menjual tenaga di tempat yang
lebih lapang, di kota.
Saya pergi ke Yogya, mengadu untung. Membosankan sekali
hidup tanpa pekerjaan. Maka saya masuk kursus mengetik di Patuk, di depan
asrama polisi, dengan harapan akan bisa mengatasi kejemuan saya. Tetapi
sewaktu itu saya jatuh sakit lagi. Sungguh, saya dituntut untuk bersabar,
penguasaan diri yang kelak pun barus saya lakukan.
Pada suatu hari saya membaca pengumuman Polisi, yang
menyebutkan, babwa Keibuho, Polisi, menerima anggota baru. Mulanya
saya ragu, apakah saya sudah aman di mata Jepang. Tetapi kemudian saya
memberanikan diri. Saya mendaftar.
Badan saya diperiksa. Nasib baik. Saya lulus, tak
diketahuinya, bahwa saya mengidap penyakit malaria. Lalu terus saya
mendapat latiban selama tiga bulan. Dengan sendirinya saya lulus dari
latiban yang kebanyakan berupa baris berbaris itu, karena saya pernah
berlatih sebagai kader sersan.
Malahan saya lulus sebagai nomor satu.
Tidak aneh. Dan karena saya lulus sebagai nomor satu itu, maka saya
dijadikan tukang hilir mudik dan kemudian disuruh belajar babasa Jepang.
Lewat itu saya diberi tahu, setengah dianjurkan oleh Kepala Polisi, opsir
Jepang, untuk mendaftarkan diri pada PETA (Tentara Sukarela Pembela Tanah
Air) yang baru dibuka.
Maka masuklah saya jadi PETA, lewat saringan. Tentu
saja saya tidak menyebutkan diri saya bekas KNIL waktu mendaftar untuk
diterima. Saya tetap jaga-jaga, jangan sampai ditangkap oleh Jepang.
Seharusnya, barangkali, bekas KNIL menjadi Heibo.
Melalui ujian saya diterima untuk dilatih sebagai
Shodancho.
Dari sekian banyak pelamar dari Yogya, saya
satu-satunya dari polisi yang lulus dalam ujian itu. Memang bisa
dimengerti pula, karena saya sudah mempunyai dasar pendidikan militer,
sehingga saya tidak menemukan kesulitan dalam mengikuti ujian itu.
Salah seorang di antara kawan-kawan dari Yogya waktu
itu adalah Pranoto Wijono yang sekarang sudah pensiun. Teman lainnya yang
masih ada sekarang dan pernah bersama-sama di Kyoikutai (sekolah
latihan) di Bogor itu adalah Supio. Di asrama di Bogor, ia tidur
berdampingan dengan saya, di tempat tidur yang didempetkan pada tempat
tidur saya, berjejer.
Supio menjadi teman dekat saya. Kalau habis latihan dia
kemudian harus mencucikan pakaian saya. Dalam pada itu saya mendapat
bagian membersihkan senjata. Artinya, membersihkan senjata saya dan
senjata Supio. Dia juga mesti antri untuk membeli kue moci, makanan
yang muncul di zaman Jepang dan menyerupai onde-onde, di kantin. Kalau
tidak cepat antri, kita tidak bakal kebagian, karena tidak cukup banyak
yang tersedia.
Dalam latihan PETA ini terasa hidup patriotisme,
kecintaan untuk membela tanah air. Tak percuma sebuatan "Pembela Tanah
Air" yang lazim pula disebut pada waktu itu "tentara sukarela". Jepang
menyebutnya Bo Ei Gyugun, atau disingkatkan Gyugun.
Yang diterima untuk dilatih di Kyoikutai adalah
lulusan sekolah rendah sampai sekolah menengah tinggi (SMT). Di samping
itu ada juga kiai-kiai, guru-guru sekolah agama dan bekas pegawai-pegawai
kantoran.
Latihan Shodancho, komandan peleton, lamanya
empat bulan. Latihannya sangat berat, sedang latihan Chudancho,
komandan kompi, yang juga diadakan di sana dan latihan Daidancho (komandan
batalyon) lebih santai.
Ditempakan kepada kami, PETA juga harus mampu menjadi
cadangan Rikiugun atau Angkatan Darat. Maka latihan untuk
Shodancho dititikberatkan pada penguasaan taktik kesatuan kecil ialah
peleton atau seksi, lengkap harus menguasai tugas peleton, walaupun waktu
latihan sangat singkat.
Terasa latihan Shodancho cukup berat. Untungnya
saya sudah pernah mendapatkan latihan seperti itu. Di balik itu Jepang
bertindak keras, rupanya menjaga kalau-kalau yang dilatih masih kurang
taat kepadanya.
Kami alami mesti minum air kotor dari sungai di
belakang pabrik karet "Good Year" di tengah-tengah latihan yang melelahkan
itu. Sekali dua kali kami pernah disuruh berlutut berjam-jam lamanya,
karena salah seorang di antara kami membuang peci Hancho.
Di tengah-tengah ini ditekankan kepada kami semangat
anti Inggris - Amerika dan ditanamkan semangat "Asia untuk Asia'. yang
sebenarnya adalah "Asia untuk Jepang". Lebih dulu semboyan "Tiga A" sudah
didengung-dengungkan. Tapi yang terjadi adalah bahwa tekanan Jepang itu
menyebabkan semangat di antara kami, sebagai putra-putra Indonesia yang
ingin membela tanah air, bertambah besar. Kekeluargaan kami bertambah erat.
Begitu juga rasa persatuan PETA dengan rakyat dan dengan barisan-barisan
lain, seperti dengan Barisan Shuishintai atau Pelopor dan
Seinendan, Keibodan yang semula dijadikan kaki tangan polisi Jepang.
Di tangsi itu kami jadi tahu sikap dan tabiat Jepang
yang sebenarnya. Maka terjadilah satu dua kali perlawanan terhadap Jepang.
Ada yang berani menempeleng Jepang dengan harus menerima akibatnya yang
parah. Tetapi tekanan Jepang itu kemudian tidak tertahankan lagi di
beberapa tempat.
Pada pembentukan PETA ditentukan, bahwa prajurit PETA
dari setiap karesidenan (Syu) tidak boleh dikirimkan atau
ditempatkan di daerah karesidenan lain, apalagi ke luar Indonesia. Maka
setelah selesai saya dilatih untuk Shodancho di Bogor itu, saya
dikembalikan ke Yogyakarta dan ditempatkan di Batalyon di Wates.
Kemudian, bersama-sama dengan Pranoto saya dipilih lagi
untuk dilatih menjadi Chudancho di Bogor. Pelajaran taktik dan
strategi perang kami selesaikan di tahun 1944.
Sementara itu di Bogor saya berkenalan dengan
Shodancho Singgih yang dalam riwayat hidupnya kemudian, menjelang
diproklamasikannya kemerdekaan itu, bersama-sama dengan pemuda- pemuda
lainnya membawa Bung Karno sekeluarga dan Bung Hatta dari Jakarta ke
Rengasdengklok.
Selesai latihan Chudancho saya ditempatkan di
Seribu, markas besar PETA di Solo, di Kusumoyudan. Pada waktu itu saya
bertemu lagi dengan Sulardi yang sudah berkeluarga dan bekerja di Kantor
Pertanian Kota.
Sebelum sekolah Chudancho saya ditempatkan di
pos pertahanan di Glagah, di pantai selatan Yogyakarta. Kemudian saya
dipindahkan ke Solo, terus ke Madiun. Maka saya mengenal lebih baik lagi
daerah itu. Pranoto waktu itu dikembalikan ke Yogya.
Sebagai Chudancho di Markas Besar PETA saya
memegang bagian pendidikan. Karena itu saya dipindahkan ke Jaga Monyet (nama
asmara tentara) di Jakarta untuk melatih murid-murid STM yang akan menjadi
tentara zeni. Pada waktu itulah saya berjumpa kembali dengan Shodancho
Singgih.
Selesai melatih anak lulusan STM menjadi Bundancho,
saya dikembalikan ke Markas Besar PETA yang sudah pindah ke Madiun
dari Solo.
Pengalaman-pengalaman di PETA menumbuhkan keyakinan
dalam hati saya bahwa tindak-tanduk kebanyakan opsir Jepang tidak bisa
kami setujui. Tumbuh keinginan saya untuk melawan mereka yang menyakiti
hati kami itu.
Dengan terjadinya pemberontakan PETA di Blitar, Jepang
berusaha membersihkan korps perwira PETA di pelbagai tempat. Terdengar,
saya pun di antara mereka yang akan diberhentikan. Tetapi beberapa orang
Jepang yang masih menghargai saya mencegah supaya saya tidak dilepas.
Kemudian saya ditempatkan di kaki Gunung Wilis di desa Brebeg, di sebelah
selatan Madiun. Di sana saya melatih prajurit PETA dari Batalyon Blitar
untuk dijadikan Bundancho.
Bundanco yang saya latih bersama Bundancho
Imam Munandar (sekarang Gubemur Riau) itulah yang akan mengganti para
Bundancho yang dihukum mati oleh Jepang, karena memberontak.
Sementara itu terasa bahwa Perang Pasifik sudah
mendekati akhirnya. Tetapi saya yang berada di tempat pedalaman belum
mengetahui banyak mengenai apa yang terjadi di kota-kota besar, apalagi di
Jakarta. Hubungan dengan tempat-tempat itu lamban sekali.
*** Soeharto Media Center |