HM Soeharto (1)
Dikhianati Pembantu Dekatnya
Haji Muhammad Soeharto, dipanggil akrab Pak Harto, adalah sosok nama besar
yang memimpin Republik Indonesia, selama 32 tahun. Suatu kemampuan
kepemimpinan luar biasa yang harus diakui oleh teman dan lawan politiknya
(senang atau tidak). Ia menggerakkan pembangunan dengan strategi Trilogi
Pembangunan (stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan). Bahkan sempat
mendapat penghargaan dari FAO atas keberhasilan menggapai swasembada
pangan (1985). Maka, saat itu pantas saja ia pun dianugerahi penghargaan
sebagai Bapak Pembangunan Nasional.
Namun, akhirnya ia harus meletakkan jabatan secara tragis, bukan
semata-mata karena desakan demonstrasi mahasiswa (1998), melainkan lebih
akibat pengkhianatan para pembantu dekatnya yang sebelumnya ABS dan
ambisius tanpa fatsoen politik.
Saat ia baru meletakkan jabatan, ada rumor yang berkembang. Seandainya Pak
Harto mendengar hati nurani isteri yang dicintainya, Ibu Tien Soeharto,
yang konon, sudah menyarankannya berhenti sekitar sepuluh tahun sebelumnya, pasti
kepemimpinnya tidak berakhir dengan berbagai hujatan yang memojokkannya
seolah-olah ia tak pernah berbuat baik untuk bangsa dan negaranya.
Ia memang seperti kehilangan ‘inspirasi’ dan ‘teman sehati’ setelah Ibu
Tien Soeharto meninggal dunia (Minggu 28 April 1996). Pak Harto bukan pria satu-satunya yang
merasakan hal seperti ini. Banyak pria (pemimpin) yang justru ‘kuat’
karena didukung keberadaan isterinya. Salah satu contoh, Bill Clinton mungkin
sudah akan jatuh sebelum waktunya jika tak ditopang isterinya Hillary
Clinton.
Pak Harto tidak segera mencari pengganti isterinya. Kesepiannya seperti
teratasi atas dorongan pengabdian kepada bangsa dan negaranya. Ia
menghabiskan waktu dalam mengemban tugas beratnya sebagai presiden.
Apalagi beberapa pembantunya memberinya laporan dan harapan yang
mendorongnya untuk tetap bertahan sebagai presiden. Bahkan, bersama
pembantunya (menterinya) BJ Habibie, ia bisa berjam-jam berbicara. Tak
jarang para staf harus menyediakan mie instan jika menunggui pertemuan
mereka itu.
Rakyat bangsa ini tentu masih ingat. Seusai Pemilu 1997 dan sebelum Sidang
Umum MPR, Maret 1998, para pembantunya, di antaranya Harmoko, selaku Ketua
Umum DPP Golkar, menyatakan akan tetap mencalonkan HM Soeharto sebagai
presiden 1998-2003. Tapi, justeru pada HUT Golkar ke-33, Oktober 1997 itu,
HM Soeharto mengembalikan pernyataan itu untuk dicek ulang: Apakah rakyat
sungguh-sungguh masih menginginkannya menjadi presiden?
Setelah berselang beberapa bulan, tepatnya tanggal 20 Januari 1998, tiga
pimpinan Keluarga Besar Golkar atau yang lazim disebut Tiga Jalur Golkar,
yakni jalur Golkar/Beringin (Harmoko), jalur ABRI (Feisal Tanjung) dan
jalur birokrasi (Yogie SM), datang ke Bina Graha menyampaikan hasil
pengecekan ulang keinginan rakyat dalam pencalonan HM Soeharto sebagai
Presiden RI.
Saat itu mereka melaporkan kepada Pak Harto. "Bahwa ternyata rakyat memang hanya mempunyai
satu calon Presiden RI untuk periode 1998-2003 yaitu HM Soeharto,” kata
Harmoko mengumumkan kepada pers usai melapor kepada Pak Harto. "Mayoritas
rakyat Indonesia memang tetap menghendaki Bapak Haji Muhammad Soeharto
untuk dicalonkan sebagai Presiden RI masa bakti 1998-2003," tutur Harmoko
yang didampingi M Yogie SM dan Jenderal TNI Feisal Tanjung ketika itu.
Menurut Harmoko, Jenderal TNI (Purn) H Muhammad Soeharto, setelah menerima
hasil pengecekan itu, menyatakan bersedia dicalonkan kembali sebagai
Presiden RI masa bhakti 1998-2003. Selain mengumumkan kesediaan Pak Harto
dipilih kembali sebagai Presiden RI, menurut Harmoko, Keluarga Besar
Golkar juga membuat kriteria untuk calon Wakil Presiden, antara lain
memahami ilmu pengetahuan dan industri. Pernyataan ini mengarah kepada BJ
Habibie.
Dari hasil pengecekan yang dilakukan oleh keluarga besar Golkar itu, masih
menurut Harmoko, Pak Harto menghargai kepercayaan sebagian besar rakyat
Indonesia tersebut walaupun harus ada pengorbanan bagi kepentingan
keluarga. Tetapi untuk kepentingan bangsa dan negara, Haji Muhammad
Soeharto tidak mungkin menghindar dari tanggung jawab sebagai patriot dan
pejuang bangsa.
"Dengan adanya kepercayaan rakyat ini tidak membuat Bapak Haji Muhammad
Soeharto bersikap 'tinggi glanggang colong playu.' Itu istilah Pak Harto
yang artinya tidak meninggalkan tanggung jawab dan mengelak dari
kepercayaan rakyat tersebut demi kepentingan negara dan bangsa," tegas
Harmoko.
Tapi, ternyata itulah awal sebuah tragedi pembusukan dan pengkhianatan digulirkan. HM
Soeharto memang terpilih kembali menjadi Presiden periode 1998-2003 pada
Sidang Umum MPR, 1-11 Maret 1998. Didampingi BJ Habibie sebagai wakil
presiden.
Namun, komponen mahasiswa dan berbagai kelompok masyarakat terus
melancarkan demonstrasi meminta Presiden Soeharto dan Wapres BJ Habibie
turun serta Golkar dibubarkan. Saat itu, Pak Harto masih terlihat yakin
bahwa demonstrasi itu akan surut dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi.
Maka pada awal Mei 1998, ia berangkat ke Kairo, Mesir, untuk menghadiri
KTT Nonblok. Saat berangkat, di bandara Halim Perdanakusuma, ia dilepas
Wakil Presiden BJ Habibie, Fangab Feisal Tanjung, juga Ketua Harian ICMI
Tirto Sudiro dan sejumlah menteri lainnya yang sebagian diantaranya
kemudian mengkhianatinya.
Sementara, sepeninggal Pak Harto, dalam beberapa hari kemudian, suasana
Jakarta semakin mencekam. Selain akibat demonstrasi mahasiswa makin marak,
juga tersiar isu terjadi sesuatu misteri dalam tubuh ABRI. Misteri itu
diwarnai arah pengelompokan dalam tubuh militer itu. Selain banyak aktivis
pro demikrasi ‘hilang’ entah kemana, juga diisukan ribuan anggota militer
‘menghilang’ dari kesatuannya memembawa persenjataan lengkap dan amunisi
cadangan.
“Apa yang sesungguhnya sedang terjadi di Indonesia, adalah suatu tanda
tanya besar yang harus segera dicari jawabannya. Apakah suatu power game
sedang dimainkan di Indonesia? Siapa yang bermain dengan kelompok
bersenjata, serta bagaimana peta kekuatan gerakan sipil? Adalah sesuatu
yang harus kita analisa bersama,” tulis sebuah majalah ketika itu.
Beberapa pertanyaan yang sampai hari ini tetap misterius.
Suasana makin mencekam, pada 12 Mei 1998, akibat terjadinya penembakan
mahasiswa di kampus Universitas Trisakti, yang kemudian dikenal sebagai
Tragedi Trisakti. Empat orang mahasiswa gugur. Mahasiswa makin ‘marah’.
Hampir di seluruh kampus terjadi demonstrasi. Bahkan sebagian mulai keluar
dari kampusnya. Bersamaan dengan itu, terjadi pembakaran mobil di sekitar
parkir dekat Universitas Trisakti.
Bahkan, 13 Mei 1998, mahasiswa seperti dipancing untuk keluar dari
kampusnya. Situasi di Universitas Katolik Atmajaya Jakarta justeru
mengundang tanda tanya. Ada sekelompok demonstran yang melempari mahasiswa
dalam kampus itu karena mereka tidak keluar dari kampusnya. Para mahasiswa
tetap berada dalam kampus dalam suasana berkabung.
Besoknya, 14 Mei 1998, terjadilah malapetaka di Jakarta. Warga keturunan
Cina menjadi sasaran. Pertokoan dan pusat-pusat perbelanjaan dibakar. Saat
itu, Jakarta seperti tak punya petugas keamanan. Sementara para petinggi
ABRI berada di Malang. Di lapangan sangat terasa ada provokator yang
menggerakkan. Di beberapa tempat, ada teriakan: “Mahasiswa datang…
mahasiawa datang!”
Dalam kondisi chaos itu, rupanya mahasiswa sangat jeli. Tampaknya, mereka
menghindari dijadikan kambinghitam. Karena hari itu, dan besoknya, tidak
ada demonstrasi mahasiswa yang keluar dari kampusnya. Bahkan ada beberapa
mahasiswa yang sebelumnya tidak biasa ikut demonstrasi, memilih tidak
pulang dari kampus daripada terjebak di jalan yang penuh kerumunan.
Situasi ini memaksa HM Soeharto pulang lebih cepat dari jadual dari Mesir.
Sebelum pulang, beredar isu bahwa ia akan dihadang oleh mahasiswa. Tapi
Soeharto tetap pulang, tanpa terjadi penghadangan seperti diperkirakan
sebelumnya. Sebelum pulang, di hadapan warga Indonesia di Mesir, ia
menyatakan bersedia mundur jika rakyat menghendakinya. Saat itu, ia
menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan bersenjata melawan mahasiswa
dan kehendak rakyat.
Setiba di Jakarta, HM Soeharto kemudian mengundang beberapa tokoh
masyarakat, di antaranya Abdurrahman Wahid dan Nurcholis Madjid, tanpa
Amien Rais dan Adi Sasono, untuk membicarakan pembentukan Komite
Reformasi. Ia juga berencana merombak kabinetnya menjadi Kabinet
Reformasi. Ia menawarkan reformasi secara gradual untuk mencegah
terjadinya keguncangan.
Ia juga menerima rombongan rektor Universitas Indonesia. Mereka ini datang
untuk meminta Presiden Soeharto berhenti dengan hormat. HM Soeharto
mempersilahkan mereka menyampaikan aspirasi itu melalui MPR. Demonstrasi
mahasiswa pun akhirnya terpusat ke gedung MPR/DPR. Mereka menduduki gedung
legislatif itu.
Harmoko, yang menjabat Ketua MPR dan pimpinan MPR lainnya menampung
desakan mahasiswa yang meminta Pak Harto turun. Di hadapan para mahasiswa
itu, Harmoko menyatakan bahwa pimpinan MPR setuju dengan desakan mahasiswa
untuk meminta Pak Harto mundur. Harmoko seperti tak terpengaruh atas
pernyataannya saat meminta kesediaan Pak Harto untuk dicalonkan kembali
menjadi presiden jauh hari sebelum SU MPR.
Pernyataan Harmoko ini kemudian dijelaskan (dibantah) Pangab Jenderal
Wiranto sebagai bukan pernyataan institusi tapi lebih merupakan pernyataan
pribadi.
HM Soeharto tentu dengan cermat terus mengikuti perkembangan itu. Sampai
sore tanggal 20 Mei 1998, tampaknya ia masih yakin akan bisa mengatasi
keadaan secara damai dengan membentuk Komite Reformasi dan merombak
kabinet menjadi Kabinet Reformasi. Tapi keinginan baik Pak Harto ini
disambut dingin berbagai kalangan bahkan tragisnya ditolak sebagian
pembantunya (menteri) yang dibesarkannya.
Rupanya inilah detik-detik terakhir ia menjabat presiden. Hari itu, Rabu
20 Mei 1998 sekitar pukul 19:30, Pak Harto menerima Mantan Wakil Presiden
Sudharmono di kediaman Jalan Cendana 8 Jakarta. Saat itu, menurut
Sudharmono, Presiden Soeharto menyatakan tetap akan melaksanakan
tugas-tugas kepresidenan dan segera akan mengumumkan pembentukan Komite
Reformasi serta mengadakan perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII.
Sekitar setengah jam berikutnya, pukul 20.00, Wakil Presiden B.J. Habibie
menghadap Pak Harto. Lalu sekitar pukul 20:30, Saadillah Mursyid diminta
menemui Presiden Soeharto yang sedang bersama Wakil Presiden B.J. Habibie
di ruang tamu kediaman Jalan Cendana 8 itu. Di hadapan Wakil Presiden BJ
Habibie, Presiden Soeharto meminta Saadillah Mursyid, Menteri Sekretaris
Negara, mempersiapkan naskah final: Keputusan Presiden tentang Komite
Reformasi dan Keputusan Presiden tentang Pembentukan Kabinet Reformasi.
Saat itu, Presiden Soeharto menyatakan akan mengumumkan dan melaksanakan
pelantikannya besok hari, Kamis 21 Mei 1998. Untuk keperluan itu Presiden
Soeharto juga minta agar ruang upacara atau yang lazim disebut ruang
kredensial di Istana Merdeka dipersiapkan.
Kemudian Wakil Presiden B.J Habibie pulang. Sementara itu, sebanyak empat
belas orang menteri membuat pernyataan tidak bersedia ikut serta dalam
Kabinet Reformasi yang direncanakan Pak Harto. Mereka itu adalah para
menteri yang sebelumnya dibesarkan Pak Harto.
Lalu, sekitar pukul 21:00, setelah BJ Habibie pulang itu, Saadillah
Mursyid mohon untuk bisa melanjutkan bertemu dengan Pak Harto. Dalam
kesempatan itu, Saadillah Mursyid melaporkan bahwa sejumlah orang-orang
yang direncanakan untuk menjadi anggota Komite Reformasi telah menyatakan
menolak. Saadillah juga melaporkan adanya informasi bahwa empat belas
orang menteri yang direncanakan akan duduk dalam Kabinet Reformasi
menyatakan tidak bersedia ikut serta dalam Kabinet. Setelah itu, Saadillah
pulang.
Tapi sekitar pukul 21:40, Saadillah Mursyid diminta menemui Presiden
Soeharto lagi. Saadillah bergegas menuju ruangan di tempat biasanya
Presiden menerima tamu, termasuk menerima para menteri. Saadillah terkejut
karena Presiden tidak ada di ruangan itu. Ketika ditanyakan, barulah
ajudan memberitahukan bahwa Presiden Soeharto menunggu di ruang kerja pada
bagian kediaman pribadi.
Sekitar pukul 22:15 hari Rabu 20 Mei 1998 itu, HM Soeharto mempersilakan
Saadillah duduk di sebelahnya. Kursi hanya ada satu, di situ HM Soeharto
duduk. Lalu Saadillah dipersilahkan menggeser puff, sebuah tempat duduk
empat persegi, agar bisa lebih dekat.
Setelah hening sejenak, kemudian HM Soeharto mengatakan: “Segala usaha
untuk menyelamatkan bangsa dan negara telah kita lakukan. Tetapi Tuhan
rupanya berkehendak lain. Bentrokan antara mahasiswa dan ABRI tidak boleh
sampai terjadi. Saya tidak mau terjadi pertumpahan darah. Oleh karena itu,
saya memutuskan untuk berhenti sebagai Presiden, menurut Pasal 8
Undang-Undang Dasar 1945.“
Lalu, kepada Saadillah sebagai Menteri Sekretaris Negara, diminta untuk
mempersiapkan empat hal. Pertama, konsep ‘Pernyataan Berhenti dari jabatan
Presiden RI’; Kedua, memberitahu pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat bahwa
permintaan pimpinan DPR untuk bertemu dan melakukan konsultasi dengan
Presiden akan dilaksanakan hari Kamis, 21 Mei 1998 pukul 09:00 di ruang
Jepara Istana Merdeka; Ketiga, memberitahu Wakil Presiden BJ Habibie agar
hadir di Istana Merdeka hari Kamis tanggal 21 Mei 1998 pukul 09:00 dan
agar siap untuk mengucapkan Sumpah Jabatan Presiden di hadapan Ketua
Mahkamah Agung; Keempat, memohon kehadiran Ketua Mahkamah Agung di Istana
Merdeka hari Kamis 21 Mei 1998 pukul 09:00.
Saadillah pun segera memberitahu Pimpinan DPR, Wakil Presiden dan Ketua
Mahkamah Agung melalui telepon. Malam sudah larut menjelang tengah malam.
Lalu, bersama-sama staf, Saadillah segera mulai melakukan penyusunan
naskah Pernyataan Berhenti Presiden. Setelah mendapatkan pokok-pokok dan
arahan, Bambang Kesowo, waktu itu Wakil Sekretaris Kabinet, dan Soenarto
Soedharmo, ketika itu Asisten Khusus Menteri Sekretaris Negara mulai
menyusun konsep awal. Sementara Yusril Ihza Mahendra, ketika itu Pembantu
Asisten (Banas) Menteri Sekretaris Negara, memberikan masukan-masukan
terutama dari segi hukum tata negara.
Konsep disusun secara bersama-sama, sebagaimana layaknya suatu pekerjaan
staf. Bukan hasil kerja orang perorangan. Setelah konsep diteliti dan
dikoreksi beberapa kali, pada pukul 03:00 menjelang subuh tanggal 21 Mei
1998 naskah Pernyataan telah siap untuk diajukan kepada Presiden.
Naskah diajukan melalui prosedur yang sudah baku pada Sekretariat Negara.
Konsep yang sudah diketik rapi diserahkan kepada Ajudan. Ajudan menaruh
naskah itu di meja kerja Presiden.
Pagi harinya, Kamis, 21 Mei 1998 sekitar pukul 10:00 pagi di ruang upacara
Istana Merdeka, yang lazim ketika itu disebut ruang kredensial, Presiden
Soeharto menyampaikan pidato Pernyataan Berhenti Sebagai Presiden Republik
Indonesia.
Dalam pidatonya itu Presiden Soeharto antara lain menyatakan: “Saya telah
menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan
Kabinet Pembangunan VII. Namun demikian kenyataan hingga hari ini
menunjukkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud, karena tidak
adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan Komite
tersebut. Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara yang
sebaik-baiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya
Komite Reformasi maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi
tidak diperlukan lagi.”
“Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi
saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan
dengan baik. Oleh karena itu, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD
1945 dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan Pimpinan
Dewan Perwakilan Rakyat dan pimpinan Fraksi-Fraksi yang ada di dalamnya,
saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai
Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini,
pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998.“
Selepas itu, dengan ditemani puteri sulungnya, Siti Hardiyanti Rukmana
(Mbak Tutut) dan Saadillah Mursyid, Pak Harto melambaikan tangan
meninggalkan Istana Merdeka pulang ke kediaman di Jalan Cendana 8. Ketika
sampai di kediaman, sebelum duduk di ruang keluarga, Pak Harto mengangkat
kedua belah tangan sambil mengucap: “Allahu Akbar. Lepas sudah beban yang
terpikul di pundakku selama berpuluh-puluh tahun.“ Kemudian, putera-puteri
dan keluarga menyalaminya.
Setelah itu, Pak Harto pun menjadi bulan-bulanan caci-maki dan hujatan.
Bukan hanya dari orang-orang yang sebelumnya tidak sejalan dengan Pak
Harto, melainkan lebih lagi dari para menteri dan tokoh-tokoh Golkar yang
selama ini tak sungkan-sungkan melakukan berbagai cara untuk bisa
mendekat. Bahkan BJ Habibie yang mengaku dibesarkan HM Soeharto juga
tampak tanpa fatsoen politik mengambil sikap bahwa dalam politik tidak ada
persahabatan yang kekal, hanya kepentinganlah yang abadi.
Mereka tidak segan-segan memosisikan Pak Harto dan keluarga Cendana ibarat
keranjang sampah. Tempat pembuangan semua yang kotor. Bahwa semua
kekotoran pada era Orde Baru ditimpakan ke pundak Pak Harto dan
keluarganya. Sepertinya, HM Soeharto dan keluarganya sebagai satu-satunya
yang melakukan korupsi pada era itu.
HM Soeharto pun ‘diasingkan’ dari Golkar yang dibesarkannya. Elit-elit
Golkar malah yang duluan teriak agar Soeharto ditahan karena
kejahatan-kejahatan yang dituduhkan kepadanya selama memerintah. Golkar
yang sebelumnya lebih didonimasi pengaruh ABRI tampak bergeser lebih
didominasi elit-elit ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia).
Suatu tragedi tendensius konstitusi, yang kental diwarnai subjektivitas
politik pun terjadi. Pada Sidang Istimewa MPR 13 November 1998 – MPR yang
masih didominasi kekuatan Golkar hasil Pemilu 1997 – menetapkan Ketetapan
MPR No.XI/MPR/1998. Pasal 4 ketetapan MPR itu berbunyi: “Upaya
pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme harus dilakukan secara tegas
terhadap siapapun juga, baik pejabat negara, mantan pejabat negara,
keluarga, dan kroninya maupun pihak swasta/ konglomerat termasuk mantan
Presiden Soeharto dengan tetap memperhatikan prinsip praduga tidak
bersalah dan hak-hak asasi manusia.”
Penyebutan nama orang secara eksplisit – mantan Presiden Soeharto – dalam
pasal ini tampak tendensius, absurd dan sangat diwarnai sifat
subjektivitas politik serta di luar kelaziman sistem ketatanegaraan
Indonesia. Bukankah sebaiknya format suatu Tap MPR merupakan garis-garis
umum dari suatu kebijakan negara? Jadinya, pasal ini seperti hendak
diposisikan hanya berlaku kepada mantan Presiden Soeharto, tetapi tidak
berlaku bagi mantan presiden yang lainnya.
Tampaknya, itulah puncak pengkhianatan beberapa mantan menteri dan elit
Golkar yang dibesarkannya. Kendati Pak Harto tidak pernah mengatakan
secara eksplisit bahwa mereka ini mengkhianatinya. Tapi sikapnya yang sampai hari ini belum
bersedia menerima kunjungan BJ Habibie dan beberapa mantan menteri dan
elit Golkar lainnya bisa dipahami berbagai pihak sebagai indikasi ke arah
itu.
Pak Harto pun menunjukkan ketabahan dan keteguhannya. Ia pun akhirnya
sempat diadili dengan tuduhan korupsi, penyalahgunaan dana yayasan-yayasan
yang didirikannya. Ia menyatakan bersedia mempertanggungjawabkan dana
yayasan itu. Tapi, ia pun jatuh sakit yang menyebabkan proses peradilannya
dihentikan.
Tapi tidak semua mantan menterinya tega mengkhianat, tidak mempunyai moral
politik. Ada beberapa yang justeru makin dekat dengannya secara pribadi
setelah bukan lagi berkuasa. Satu di antaranya adalah Saadillah Mursyid,
mantan Menteri Sekretaris Negara. Saadillah menyatakan: “Mudah-mudahan
saya terhindar dari orang-orang yang semasa Pak Harto memegang jabatan
Presiden, selalu mendekat-dekat, menjilat dan mencari muka. Pada waktu Pak
Harto tidak lagi menjadi Presiden orang-orang itu pula yang bersuara
lantang menghujat, mencaci, melempar segala kesalahan kepada Pak Harto.
Kelompok orang-orang seperti itu memperoleh kutukan Allah dan bagi mereka
tempat kediaman yang buruk, jahanam (Al Qur‘an, Surah Ar Ra’ad ayat 25).”
*** Soeharto Media Center, repro Tokoh Indonesia DotCom.
Bersambung:
01. Dikhianati Pembantu Dekatnya
02. Kejuangan Pemimpin Pejuang [Bngs Tnp Pahlawan]
03. Konspirasi Asing dan Krisis Moneter
04. Golkar, ABRI dan ICMI
05. Seminar AD, CSIS dan Cides
06. Jakarta-Jakarta, oh Indonesia
07. Tanggung Jawab Sang Pemimpin
08. Anak Petani Miskin dari Kemusuk
09. Prajurit Pejuang
10. Penumpasan G-30-S/PKI
11. NKRI dan Propinsi Timor Timur
12. Repelita dan Trilogi Pembangunan
13. Swasembada Pangan
14. Industri dan Teknologi
15. Yayasan dan Kepedulian Sosial
16. Indonesia Masa Depan |
|
|