Soeharto Media Center      
  Bapak Pembangunan Nasional    
 
     
  :: Home :: Berita :: Opini :: Pidato :: Buku :: Biografi :: Jejak :: Album :: Penghargaan :: Yayasan :: Pidato :: Kabinet ::  
     
           
           
 
BERITA
H. M.Soeharto
 
INDEX BERITA
Aktual
Analisis
Wawancara
Editorial
Press Release
Redaksi
 
Kesaksian
Pak Harto Tidak Mau Terjadi Pertumpahan Darah
 
Redaksi
Redaksi menerima tulisan, kesaksian dan komentar konstruktif mengenai Pak Harto. Kirimkan ke PO BOX 4042 JKTJ 13040.
Atau
E-mail: Redaksi
 
 
 
 
 
 

 

  Pak Harto

Kunjungi Tommy di Nusakambangan


Cilacap 5 Mei 2003: Mantan Presiden Soeharto, Senin (5/5), mengunjungi anak bungsunya Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto yang saat ini sedang menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Batu, Pulau Nusakambangan di Selatan Kota Cilacap, Jawa Tengah.

Ini adalah kunjungan untuk kedua kalinya ke Nusakambangan. Kunjungan pertamanya dilakukan 30 Oktober 2002, dua bulan setelah Tommy Soeharto dipindahkan dari LP Cipinang, Jakarta, ke pulau seluas 117 kilometer persegi. Tommy Soeharto dipindahkan ke Nusakambangan tanggal 16 Agustus 2002.

Mantan presiden itu datang ke Nusakambangan didampingi putranya Sigit Harjoyudanto serta seorang pengawal pribadi. Mereka datang ke Nusakambangan dengan mobil VW Caravan. Sebuah mobil lain yang ditumpangi beberapa pengawal mengikuti mobil yang ditumpangi keluarga Cendana. Rombongan keluarga Cendana itu menyeberang melalui dermaga khusus Wijayapura di Cilacap menuju dermaga Sodong di Nusakambangan dan selanjutnya menuju LP Batu yang jaraknya sekitar tujuh kilometer dari Sodong.

Soeharto yang masih kelihatan lemah dan dipapah Sigit mengenakan t-shirt berwarna abu-abu dipadu jaket hitam dan celana hitam tiba di LP Batu sekitar pukul 11.30 dan diterima Kepala LP setempat Sumantri. Kurang lebih selama 10 menit di ruang kepala LP, selanjutnya menunggu putra bungsunya di ruang kerja Budi Hardono, Kepala Satuan Pengaman LP Batu, sebelum menuju ruang besuk.

Pertemuan bapak dan anak itu berlangsung di ruang besuk. Untuk menuju ruang pertemuan yang harus menuruni tangga, Soeharto tetap dipapah Sigit. Tommy Soeharto yang mengenakan kaos dan celana olahraga berwarna putih tampak segar menyambut kedatangan bapaknya.

Sampai Mei 2003, Tommy sudah hampir delapan bulan berada di Nusakambangan. Tommy Soeharto menyambut kedatangan ayahandanya dengan melakukan sungkem dan beberapa saat saling berpelukan untuk melepas kangen.

Sambil memeluk anaknya, Soeharto menepuk–nepuk punggung Tommy dengan telapak tangannya. "Bapak dan anak berpelukan cukup lama," ujar Sumantri yang bersama Budi Hardono menyaksikan adegan mengharukan tersebut.

Soeharto yang kelihatan lemah karena usia tua masih sulit berbicara. Ia sempat menanyakan kesehatan serta kegiatan apa saja yang dilakukan anaknya selama di LP. Ia juga menasehati Tommy Soeharto untuk tetap tabah dan tawakal serta rajin beribadah dalam menghadapi cobaan berat.

Tommy Soeharto, bapak dua anak ini, dijatuhi pidana 14 tahun penjara dalam kasus kepemilikan senjata api ilegal dan keterlibatannya dalam pembunuhan Hakim Agung Syafiuddin Kartasasmita. Sebelum dipindahkan ke LP Batu, Nusakambangan ia sempat menghuni LP Cipinang , Jakarta.

LP Batu, adalah salah satu dari empat LP yang masih berfungsi di pulau kecil yang sampai saat ini menjadi "pulau penjara" tersebut. Di Nusakambangan terdapat sembilan bangunan LP peninggalan zaman Belanda. Empat LP yang masih berfungsi adalah LP Kembangkuning, LP Besi, LP Permisan, dan LP Batu. Selain anak bungsu mantan Presiden Soeharto, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Bob Hasan juga menghuni LP Batu.

Ruang tahanan Bob Hasan dan Tommy Soeharto letaknya saling berdekatan, tetapi terpisah dari sel narapidana (napi) lainnya. Bob Hasan yang dijatuhi pidana enam tahun penjara karena dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana korupsi dalam proyek pemotretan hutan kawasan industri diperkirakan bulan Agustus ini akan bebas.
 

*SMC, dari Kompas 6/5/03

 

 

Handrawan Nadesul

Kalau Kesehatan Pak Harto Diragukan, Bisa Dilakukan Tes Khusus

Kalau publik meragukan kondisi kesehatan yang sebenarnya dari Pak Harto, sebetulnya bisa dilakukan tes khusus untuk mengetahui, apakah kondisinya betul-betul parah atau hanya sekadar pura-pura. Yang jelas, pasien pasca-stroke seperti Pak Harto harus diberi semangat hidup, dan perasaan optimistis.

 

 

 
             
             
Copyright © 2003 SoehartoCenter-YCPPI. Design and maintainance by Esero.