Soeharto Media Center      
  Bapak Pembangunan Nasional    
 
     
  :: Home :: Berita :: Opini :: Pidato :: Buku :: Biografi :: Jejak :: Album :: Penghargaan :: Yayasan :: Pidato :: Kabinet ::  
     
           
           
 
BERITA
H. M.Soeharto
 
INDEX BERITA
Aktual
Analisis
Wawancara
Editorial
Press Release
Redaksi
 
Kesaksian
Pak Harto Tidak Mau Terjadi Pertumpahan Darah
 
Redaksi
Redaksi menerima tulisan, kesaksian dan komentar konstruktif mengenai Pak Harto. Kirimkan ke PO BOX 4042 JKTJ 13040.
Atau
E-mail: Redaksi
 
 
 
 
 
 

 

  Setelah Meletakkan Jabatan

Pak Harto Menjadi Pandito


Setelah lengser keprabon, Pak Harto meneruskan hidupnya sebagai Pandito, dengan mencoba mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Kita yakin sebagai orang beragama percaya, Tuhan itu ada, walaupun tidak bisa kita lihat, tidak bisa kita sentuh, tapi Tuhan itu ada,” katanya.

“Sifat Tuhan itu yang bisa kita yakini, bahkan menurut Al Quran, ada 99 sifat yang baik dari Tuhan. Kalau kita mendekati Tuhan, berarti tetap mendekatkan diri pada sifat-sifat Tuhan, yakni sifat yang baik termasuk sifat yang sabar. Kita melihat kesabaran Tuhan itu, jadi kalau sampai saya tergoda dan tidak sabar, yah begitu saja... (tertawa).. Yang jelas,
menurut saya, kita melatih diri untuk berpikir positif. Juga, melakukan sholat.”

T: Bapak pernah menghadiri sholat Jumat di Masjid Mabes ABRI, Kodam Jaya dan di tempat lain.
Mereka mengundang saya.

T: Bagaimana kalau suatu kali sholat di Masjid Baiturrakhim (Masjid Istana)?
Akh... Nanti dibilang saya mau masuk Istana lagi (tertawa). Belakangan ini, saya sholat di rumah saja. Untuk sementara, undangan-undangan itu saya tolak.

T: Apakah keinginan mendekatkan diri kepada sifat-sifat Tuhan itu berkaitan dengan persetujuan Bapak sebagai Ketua Yayasan, menaikkan bantuan?
“Itu dengan sendirinya, karena memang itu salah satu perbuatan baik adalah menolong orang, sebagaimana saya sudah mulai dari tahun 63. Saya terpanggil untuk menolong, kemudian pengalaman itu saya tingkatkan setelah saya menjadi Presiden, untuk orang yang lebih banyak. Menolong itu berarti sifat dari Tuhan, sifat baik tokh. Sudah dari dulu saya mempraktekkannya. Bantuan Yayasan lebih ditingkatkan, karena besar
bantuan yang kita berikan selama ini memang semakin tak mencukupi, sementara dananya masih ada.”

“Hasil uang yang didepositokan, ‘kan. berlebih, jadi kenapa tidak kita gunakan. Kalau dulu, kelebihannya itu selalu ditambahkan lagi menjadi simpanan deposito, sekarang gantian, ditambahkan ke bantuan yang kita berikan. Jadi, buat apa kita tahan. Kemarin, rapat sudah memutuskan untuk lebih meningkatkan bantuan dan hal itu sudah dilaporkan kepada Menteri Sosial, Menko Kesra dan Menko Wasbang. Ini ‘kan berita yang baik.”

Pak Harto juga berpesan, kalau menolong orang supaya menuliskannya di pasir, agar tulisannya segera hilang, tetapi kalau ditolong orang, tulislah di atas batu, supaya tahan lama dan selalu dapat dibaca dan diingat.

Soal Rekening dan Putera-Puteri
Pak Harto menegaskan, kekayaan yayasan-yayasan yang diketuainya bukan miliknya pribadi. “Kekayaan yang ada itu biarpun banyak bukan milik pribadi, bukan milik Soeharto, bukan milik pengurus, tapi untuk mengembangkan lembaga, yang jujuannya jelas untuk kepentingan sosial,” katanya.

Kepemilikan yayasan itu pun dinilainya jelas. Karena tiap tahun diperiksa dan diaudit. “Hingga sekarang terbuka, transparan, diaudit oleh akuntan publik. Saya tidak mengarahkan akuntan itu untuk begini untuk ini dans ebagainya. Wong itu bukan kekayaan saya dan bukan kekayaan keluarga. Tapi semata-mata upaya untuk melengkapi usaha pemerintah dalam melaksanakan pembangunan. Karena kemampuan pemerintah terbatas, masyarakat kita kerahkan, dengan Dharmais, dengan Supersemar, kemudian Dakab, kemudian pula yayasan-yayasan lainnya.”

Kalau orang mencurigai, barangkali itu milik keluarga, kenyataannya benar-benar bukan demikian. Termasuk pula dugaan orang, seolah-olah saya itu punya kekayaan di luar negeri. Satu sen pun saya tidak punya rekening di ruar negeri. Saya tidak punya account di bank asing, di luar negefi. Kalau ada yang mengetahui, silakan. Mari, saya teken. Kalau memang ada, saya serahkan untuk membantu negara yang sedang mengalami persoalan valuta asing.

Saya tidak memiliki account (rekening) di luar negeri. Kalau ada yang menemukannya silahkan lapor, saya teken untuk diserahkan kepada negara”

Adapun keluarga, demikian pula anak-anak saya, itu umum saja, kan sama, punya hak yang sama dengan warga negara Indonesia yang lam, Saya telah mendidik anak-anak, sejak saya mulai jadi Presiden. Saya mengatakan, kamu anak-anak harus betul-betul menjaga diri. Jangan merasa menjadi anak Presiden. Saya katakan, Presiden itu cuma lima tahun. Ya, tokh. Setelah lima tahun, tidak bisa menjadi Presiden lagi, kecuali kalau dipilih lagi, bisa lima tahun lagi. Karena itu, jangan lantas kamu nyombong menjadi anak Presiden. Kamu lebih baik menyadari sebagai anaknya orang tuamu, ayah dan ibu, yang namanya Soeharto, yang hanya kebetulan menjadi Presiden. Karena itu, bergaul dengan masyarakat lainnya dengan baik.
 

*** Soeharto Media Center

  Handrawan Nadesul

Kalau Kesehatan Pak Harto Diragukan, Bisa Dilakukan Tes Khusus

Kalau publik meragukan kondisi kesehatan yang sebenarnya dari Pak Harto, sebetulnya bisa dilakukan tes khusus untuk mengetahui, apakah kondisinya betul-betul parah atau hanya sekadar pura-pura. Yang jelas, pasien pasca-stroke seperti Pak Harto harus diberi semangat hidup, dan perasaan optimistis.

 

 

 
             
             
Copyright © 2003 SoehartoCenter-YCPPI. Design and maintainance by Esero.